Inspirasi Sygma Daya Insani

Melembutkan Hati

Melembutkan Hati

Oleh Muhammad Bachtiyar | Sabtu, 24 Februari 2018 08:19 WIB | 4578 Views

Kita semua tentu menyadari betapa banyak pribadi, keluarga, masyarakat, jamaah hingga bangsa dan negara yang tidak baik, amat jauh perjalanan hidupnya dari ketentuan yang digariskan oleh Allah SWT. Bahkan bisa jadi kita termasuk orang yang demikian. Semua itu berpangkal pada hati.

Kita semua tentu menyadari betapa banyak pribadi, keluarga, masyarakat, jamaah hingga bangsa dan negara yang tidak baik, amat jauh perjalanan hidupnya dari ketentuan yang digariskan oleh Allah SWT. Bahkan bisa jadi kita termasuk orang yang demikian. Semua itu berpangkal pada hati.

 

Karena itu, hati memiliki kedudukan yang sangat penting. Baik dan buruknya seseorang sangat tergantung pada bagaimana keadaan hatinya, bila hatinya baik, maka baiklah orang itu dan bila hatinya buruk, buruklah orang itu. Rasulullah SAW bersabda : Ingatlah, di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, baiklah anggota tubuh dan apabila ia buruk, buruk pulalah tubuh manusia. Ingatlah, segumpal daging itu adalah hati (HR. Bukhari dan Muslim).

Hati menjadi komandan bagi seluruh aktivitas kehidupan kita. Bisikan dari hatilah yang kemudian menggerakkan fikiran yang lalu dilaksanakan oleh panca indera kita. Karenanya, kesehatan hati kita menjadi mutlak untuk diperhatikan. Hati kita harus selalu dibuka dan jangan sampai kita tutup. Yang menutup hati biasanya orang-orang kafir sehingga peringatan dan petunjuk tidak bisa masuk ke dalam hatinya.

Hal yang amat berbahaya bila hati tertutup. Selain petunjuk dan nasihat tidak bisa masuk, keburukan yang ada di dalam hati juga tidak bisa keluar sehingga meskipun kita tahu bahwa itu buruk amat sulit bagi kita untuk mengeluarkan atau membuangnya. Ibarat ruangan, bila kita buka pintu dan jendelanya, maka udara kotor bisa keluar dan udara bersih bisa masuk sehingga akan kita rasakan kesegaran jiwa. Berbagai bencana yang kita nilai dahsyat dalam kehidupan kita di dunia ini bisa kita pahami sebagai bentuk upaya menggedor hati manusia agar mau membukanya dan mengakui kebesaran Allah SWT, namun ternyata hati yang tertutup rapat tetap saja tidak terbuka, mereka hanya mengatakan hal itu sebagai fenomena alam.

Untuk mendapatkan hati yang sehat, hati kita harus senantiasa dibersihkan secara rutin dan berkal. Seperti halnya badan dan benda-benda, hati bisa mengalami kekotoran, namun kotornya hati bukanlah dengan debu, hati menjadi kotor bila padanya ada sifat-sifat yang menunjukkan kesukaannya kepada hal-hal yang bernilai dosa, padahal dosa seharusnya dibenci. Oleh karena itu, bila dosa kita sukai apalagi sampai kita lakukan, maka jalan terbaik adalah bertaubat sehingga ia menjadi bersih kembali. Hati yang bersih akan membuat seseorang menjadi sangat sensitif terhadap dosa, karena dosa adalah kekotoran yang membuat manusia menjadi hina.

Tak sekedar dibersihkan, hati kita pun butuh untuk dilembutkan. Kelembutan hati merupakan sesuatu yang amat penting untuk dimiliki, hal ini karena dengan hati yang lembut, hubungan dengan orang lain akan berlangsung dengan baik dan ia mudah menerima nilai-nilai kebenaran. Kelembutan hati akan membuat kita memandang dan menyikapi orang lain dengan sudut pandang kasih sayang sehingga bila ada orang lain mengalami kesulitan hidup, ingin rasanya kita mengatasi persoalan hidupnya, ketika kita melihat orang susah, ingin sekali kita mudahkan, tegasnya kelembutan hati menjauhkan kita dari rasa benci kepada orang lain meskipun ia orang yang tidak baik, karena kita pun ingin memperbaiki orang yang belum baik.

Faktor terpenting yang menjadikan hati lembut dan luluh dari rasa ketakutan yang timbul karena mengenal Allah SWT, dimana seorang hamba telah yang mengenal Rabbnya. Yang meluluhkan dan melembutkan hati, dan menolong seorang hamba  atas kelembutan hatinya dari rasa takut kepada Allah adalah memperhatikan ayat-ayat al-Qur`an.

Tidaklah seorang hamba membaca ayat-ayat al-Qur`an ketika membacanya dengan kehadiran hati, sambil memikirkan dan merenungkan melainkan matanya (menjadi) menangis, hatinya (menjadi) khusyu`, jiwanya memancarkan iman dari kedalamnya, hendak berjalan menuju Allah. Sekiranya permukaan hati itu berbalik setelah (berinteraksi dengan) ayat-ayat al-Qur`an, menjadi lahan subur bagi kebaikan, kecintaan dan ketaatan kepada Allah. Tidaklah seorang hamba membaca al-Qur`an dan menyimak ayat-ayat Allah melainkan anda akan mendapati pasca pembacaan dan perenungan, sebuah kelembutan.

Diantara faktor-faktor lain yang membantu melembutkan hati dan kesadaran untuk senantiasa kembali kepada Allah, adalah seorang hamba sadar bahwa ia akan kembali kepada Allah, senantiasa sadar bahwa setiap permulaan selalu ada akhirnya. Bahwa tidaklah setelah kematian yang merupakan bagian perjalanan yang harus dilewati, dan tidak pula setelah menjalani kehidupan dunia, melainkan kesudahannya ada surga atau neraka. Berbagai peristiwa kematian yang terjadi di sekitar kita hendaknya mampu kita fahami dengan benar sebagai sebuah fase yang pasti akan dilalui oleh semua orang. Kiranya seorang manusia sadar bahwa kehidupan  akan berakhir, dan dunia hanyalah merupakan kesenangan  yang sementara yang akan binasa.

Selain itu, untuk bisa melembutkan hati, bisa dilakukan dengan cara menyayangi anak yatim dan orang-orang miskin. Dalam satu hadits disebutkan : Seorang lelaki pernah datang kepada Rasulullah SAW seraya melaporkan kekerasan hatinya, maka beliau menasihatinya: “Usaplah kepala anak yatim dan berilah makanan kepada orang miskin” (HR. Ahmad).

Inspirasi Lainnya
Produk Pilihan

Paket Rasulullah Teladan Utama Plus (.

Detail
Rekomondasi Blog