Inspirasi Sygma Daya Insani

Mengenal Grafologi

Mengenal Grafologi

Oleh Hilmiyatil Alifah | Sabtu, 24 Maret 2018 16:06 WIB | 14643 Views

Tugas kita sebagai orangtua adalah mengenal siapa anak kita, membersamai tumbuh kembangnya dan tahu apa yang mereka inginkan. Menjadi teman anak-anak kita merupakan suatu hal yang tidak mudah. Orangtua wajib kreatif begitu pesan bunda Miya, hanya orang kreatif yang mampu menemukan problem solver sehingga setiap masalah yang dihadapinya bisa dipecahkan dengan hal yang seharusnya dilakukan dengan tepat.

Alhamdulillah pagi ini kami dapat berkesempatan untuk mengenal ilmu baru tentang grafologi. Awal tertarik mempelajarinya karena anak-anak suka sekali menggambar. Lalu coba search di Kamus Besar Bahasa Indonesia : gra·fo·lo·gi n 1 ilmu tentang aksara atau sistem tulisan; 2 ilmu suratan tangan; ilmu tentang hubungan antara watak dan tulisan tangan (rajah). Sekilas menarik ilmu ini dan sepertinya seru, sambil menebak kira-kira tipe apa ya gaya belajar anak-anak kalau dilihat dari sudut pandang grafologi.

Ga sabar nunggu Sabtu pagi. Tiba di lokasi acara, anak-anak antusias sekali dengan gambar mereka yang akan dinilai oleh bunda Miya, psikolog yang akan baru dikenalnya pagi ini. Duduk lesehan dan mengeluarkan selembar kertas yang sudah mereka siapkan beserta dengan pensil dan penghapusnya. Oh iya, anak kami kurang menyukai mewarnai, tapi suka sekali menggambar.

Acara mulai "panas" sesi konsultasi dan pembahasan satu-persatu dari setiap peserta semakin memperkaya pengetahuan kami, gambar yang mengarah ke kiri, tanda anak yang masih menarik dirinya untuk bersosialisasi dengan orang lain. Gambar anak-anak yang belum ada senyum atau mata menandakan bahwa mereka belum siap untuk terbuka dengan lingkungan selain di dalam keluarga. Huruf T yang ditulis anak-anak bila tajam ujung kanannya, anak ini tergolong ke dalam anak yang cuek dan kalau ngomong bila tidak kita arahkan akan keluar sesuka yang dia mau. Hehehe ini baru sedikit ilmunya, masih banyak lagi tentang peran orangtua mengenal anak dari hasil tangannya yang menggambar.

Saya coba masuk ke analisa hasil menggambar anak kami, mereka berdua termasuk introvert, hehehe (sudah saya duga) karena tidak mudah mengajak mereka untuk "keluar" rumah dan bertemu dengan orang lain. Dan ini penting bila kita tidak tahu karakter anak dan selalu menyalahkan anak yang introvert susah melebur saat bertemu dengan orang baru tentu akan menyakiti perasaannya dan membuat mereka menjauh dari kita.

Tentu kita tidak ingin anak-anak merasa terasing dengan orangtuanya sendiri disebabkan kita sendiri yang memaksa tanpa mau tau apa yang mereka inginkan. Selain introvert, mereka punya gaya belajar visual - kinestetik. Abang, ketika mengalami suatu kejadian, dia tidak akan langsung menceritakannya kepada saya, tapi akan lebih leluasa untuk menggambarnya terlebih dahulu segala hal yang dirasakannya.

Visual holistik dan detail, tipe yang seperti ini melihat sebuah peristiwa bisa digambarkan secara detail dan jangan diganggu bila sedang mengerjakan sesuatu sampai urusan yang dia lakukan dianggapnya selesai. Adek yang dari dulu follower abang ternyata menurut bunda Miya hal ini wajar-wajar saja terjadi, karena mereka memang bersaudara, justru ini menjadi penguat hubungan mereka seperti Yusuf dengan adiknya, Bunyamin atau nabi Musa dengan nabi Harun. Peluang follower bisa digunakan saya untuk mempererat hubungan persaudaraan mereka.

Walaupun terkadang abang mengeluh karena adek suka sekali mengikuti ide yang dia temukan. Namun menurut bunda Miya, walaupun adek suka menjadi follower abangnya, ada banyak hal yang membedakan keduanya. Dari gambar adek, terlihat adek lebih detail dan justru lebih "anteng" dari abangnya.

Tugas saya untuk adek adalah menstimulasinya agar dia punya keinginan sendiri seperti saat memilih sekolah yang dia inginkan. "Menariknya" secara perlahan agar mulai bisa "keluar" dan mulai mengenal lebih banyak tentang lingkungan sekitarnya. Poin kepercayaan diri, adek lebih percaya diri dari abangnya.

Bunda Miya melanjutkan sesi konsultasinya yang membahas anak visual - introvert. Bila sampai anak ini dewasa dan kita masih belum bisa menemukan cara untuk membuatnya nyaman berada disamping orangtuanya atau sekadar curhat tentang permasalahan yang dihadapinya, dia akan menjadi seorang yang pandai berpura-pura terbuka untuk menutupi permasalahannya.

Dan bila seorang visual di kemudian hari menjelma menjadi orang dewasa, mereka akan tetap menyukai buku-buku yang bergambar. Jadi jangan salahkan anak-anak kita bila sampai usianya dewasa masih suka membaca buku yang bergambar.

Tugas kita sebagai orangtua adalah mengenal siapa anak kita, membersamai tumbuh kembangnya dan tahu apa yang mereka inginkan. Menjadi teman anak-anak kita merupakan suatu hal yang tidak mudah.

Orangtua wajib kreatif begitu pesan bunda Miya, hanya orang kreatif yang mampu menemukan problem solver sehingga setiap masalah yang dihadapinya bisa dipecahkan dengan hal yang seharusnya dilakukan dengan tepat.

Mempelajari ilmu tentang pengasuhan bisa menjadi wajib bagi kita untuk mendidik amanah dari Allah. Sekian perjalanan kami menempa ilmu Grafologi di Sabtu pagi yang sedang hujan deras ini.

Semoga ilmu yang secuil dari catatan saya ada yang bermanfaat untuk pembaca yang budiman.

Selamat sore.

 

Produk Pilihan

Paket Balita Berakhlak Mulia (BBM).

Detail
Rekomondasi Blog