Inspirasi Sygma Daya Insani

Lelaki Romantis yang Aku Cintai

Rabu, 06 Februari 2019 22:09 WIB | 3800 Views

Kisah romantis antara sepasang suami istri hingga usia senja

"Ayang Nini ..., makan yang banyak ya. Aki ndak mau Ayang sakit lagi. Kalau Nini sakit, Aki sedih." Lelaki sepuh di depanku ini berusaha membujukku agar mau makan. "Aaaa ...," mulutnya sedikit membuka, dan menyuapiku. Seolah aku ini anak kecil. Baru seminggu yang lalu, aku pulih. Sejak masih single, aku memang sering anemia. Ketika umurku lebih dari setengah abad, penyakit itu sering kambuh. Kalau sudah kambuh, semua makanan tidak ada yang enak. Apalagi, kata orang-orang, jika sudah tua, makanan rasanya hambar. Lelaki yang telah meminangku sejak 60 tahun yang lalu, tepat saat aku berumur dua puluh lima tahun, tidak berubah. Masih romantis, tidak berkurang sedikit pun sejak awal. *** "Nah, Ayang pakai ini ya." Suamiku menyodorkan kotak putih berukuran sedang, yang diikat dengan pita warna merah jambu. "Apa ini, Ki?" tanyaku padanya. "Aki mau ajak Ayang Nini ke sebuah tempat yang istimewa," lanjutnya, sambil tersenyum. Kerut di wajah tuanya, tak mengurangi ketampanannya. Senyumnya masih semanis saat awal bertemu dulu. Kubuka kotak itu, "Kapan aki belinya? Mataku berbinar menatap gamis biru dongker, dan kerudung gambar abstrak bergaris, dengan warna hampir senada. "Aki mau Nini pakai ini? Aki mau ajak Nini ke mana?" cecarku. "Nanti ayang Nini akan tau," kerlingnya. Alih-alih menjawab semua pertanyaanku. Lelaki tampan dihadapanku ini, telah rapi dengan celana panjang dan jas warna biru dongker tua, dilengkapi dengan dasi kotak-kotak warna dongker yang lebih terang. Lelakiku ini, dari dulu tidak pernah mau kubantu. Selalu menyiapkan dan memakai pakaiannya sendiri. "Ayang udah capek urus ini itu. Aki masih kuat, masih bisa sendiri melakukannya," ujarnya, tiap kali aku ingin membantunya. Padahal, kerjaanku hanya makan dan tidur. Ada Mbak Iyem yang mengurus semua pekerjaan rumah. Suamiku adalah lelaki cerdas yang pekerja keras sejak muda. Tidak heran, jika diusia kami yang telah senja, kami tinggal menikmati hasilnya. Finansial freedom, dia menyebutnya. "Jangan lupa, bahwa ini semua berkat kasih sayang Allah, Ayang. Aki ndak akan bisa meraih semua ini, jika Allah ndak izinin. Tugas kita adalah memantaskan diri di hadapanNya," katanya suatu kali, saat meyakinkan aku bahwa ia meraihnya bukan karena kecerdasan dan kerja kerasnya. "Ayang kok melamun? Apa mau aki yang pakaikan?" katanya genit. Membuyarkan ingatanku. Kupandang Dia. Setelan jas yang Ia kenakan, membuatnya tampak gagah. Sebenarnya, warna favoritnya adalah hijau, tapi saat mengetahui biru dongker itu kesukaanku, favoritnya pun berubah. "Kenapa suka warna hijau?" tanyaku di awal-awal pernikahan. "Hijau itu kesukaan Rasulullah," jawabmu. "Kok, ndak suka hijau lagi?" selidikku, saat kulihat pakaiannya lebih banyak berwarna biru dongker beberapa bulan kemudian. "Masih suka, tapi karena Ayang sukanya warna dongker, entah kenapa warna ini jadi lebih menarik," ujarnya kala itu sambil tersenyum. "Apa artinya mas lebih cinta adek daripada Rasulullah?" kataku. Sejak kami punya cucu, barulah panggilan berubah jadi aki dan nini. "Mencintai Rasulullah ndak bisa dibuktikan hanya dengan menyukai warna yang sama dengannya, Ayang. Meneladani Rasulullah adalah cara yang tepat untuk menunjukkan kecintaan padanya," terangmu. Ciuman singkat mendarat di keningku. Menyadarkanku dari lamunan. "Ihh ..., Aki, apa-apaan sih. Aki mah nakaaalll ...," protesku, malu-malu kucing. "Biar aja. Biar pikiran Ayang Nini, nyatu lagi sama tubuh Ayang," katanya. "Nah, sekarang mau Aki yang pakaikan, atau Ayang pakai sendiri?" lanjutnya lembut. Segera aku berganti pakaian. Lalu, memasang kerudung di depan cermin. Setelah hampir setengah jam berkendara, sampailah kami di restoran sebuah hotel bintang lima. Memasuki restoran, kulihat tampak sepi. Tak ada pengunjung sama sekali. Dari yang kudengar, restoran ini selalu ramai dikunjungi. Terutama menjelang waktu makan siang. Apalagi di akhir pekan seperti ini. "Ahh ..., mungkin belum saja. Lagipula, sekarang baru pukul sepuluh pagi," batinku. Lelaki terkasih menuntunku ke bagian agak sudut restoran ini, dan mempersilahkan aku duduk di kursi yang telah ditariknya sedikit. Lalu, Ia duduk di sebelahku. Dari sini, hampir seluruh penjuru ruangan bisa terlihat. Di bagian belakang kursi, ada meja panjang yang membatasi ruang ini dengan ruang di sebelahnya. Terdapat bunga hias yang nampak hidup, berwarna putih di vas yang kecil, dan biru dongker berpadu putih dengan ukuran yang lebih besar. Tidak ketinggalan, daun-daun hijau yang membuatnya menjadi lebih rimbun. *** "Aaa ...." kembali Ia menyuapiku. Suapan kelima yang berhasil masuk ke mulutku. Kutatap makanan dalam piring yang tinggal separuh. "Nahh .... gitu dong. Kalo makannya banyak terus begini, InsyaaAllah, Ayang ndak akan sakit," katanya dengan mata berbinar. "Suap lagi ya. Aaa ...," ujarnya menyemangatiku. Hampir satu jam kami di sini. Namun, tetap tidak ada pengunjung lain yang datang. Mataku berkeliling melihat sekitar. Tiba-tiba, kulihat sebuah tulisan besar di meja kasir, 'Reservasi atas nama Tuan Ibrahim. Tanggal 5 Januari 2019, Pukul 09.00 wib sampai 15.00 wib' Suamiku ikut melihat ke arah mataku tertuju. Lalu, kami saling pandang. "Jadi, Aki membooking semua tempat di restoran ini?" selidikku. "Hanya untuk aki dan nini? Itukan pemborosan atuh, Akii ...!" serangku dengan nafas tersengal-sengal. Menanggapi pertanyaanku yang bertubi, lelaki berjenggot putih ini, tersenyum sambil menggenggam tanganku. "Kalo cuma pengen bikin nini nafsu makan, ndak harus begini, atuh, Aki ...." Ia tetap diam. Masih dengan tersenyum, menatapku. "Walau Aki tau kalo Nini ndak suka keramaian, tapi ini berlebihan," rajukku. Tiba-tiba, pandanganku teralihkan ke arah pintu masuk utama restoran ini. Tampak datang dari luar, serombongan anak laki-laki dan perempuan berumur antara enam sampai dua belas tahun, dengan pakaian rapi yang seragam. Yang laki-laki memakai setelan koko, sedangkan perempuan memakai set gamis dan jilbab warna-warni. Mereka masuk teratur, satu persatu. Disambut ramah oleh pelayan yang juga tadi menyambut kami saat baru datang. Lalu, pelayan itu mempersilahkan mereka duduk di tempat yang telah disediakan. Diperkirakan ada seratus anak-anak yang hadir. Kemudian, masuk seorang laki-laki setengah baya, berpeci hitam dengan memakai setelan batik. Kira-kira seumuran dengan anak tertuaku. Lelaki itu mendekati kami. Tersenyum menyapa suamiku, sambil mengulurkan tangan kanannya, "assalamualaikum Pak Ibrahim." Sambil menjawab salamnya, suamiku menyambut uluran tangannya, lalu merangkulnya erat. "Bagaimana Pak Musthofa, apa semua anak yatim-piatu yang kita undang sudah datang semua?" tanya suamiku, setelah melepas pelukannya. "Alhamdulillah, Pak Ibrahim. Semua lancar seperti yang kita rencanakan," jawab lelaki itu. "Alhamdulillah .... Silahkan ..., silahkan. Duduk di mana saja. Jangan sungkan," ujar lelaki tercintaku ini, sambil menunjuk kursi-kursi yang tersusun melingkari meja bundar yang ada dalam restoran. Tidak lama kemudian, datang pelayan yang menghidangkan berbagai macam jenis makanan ke semua meja yang telah ditempati. Salah-satunya makanan yang sama dengan yang kami makan. Kutatap wajah teduh lelaki disampingku. Berharap mendapatkan penjelasan. "Ayang Nini pernah bilang sama Aki, kalo Ayang terkadang ndak bisa masuk makanan ke mulut, disaat kita bisa makan enak, sedang di sekitar kita masih banyak yang ndak bisa makan," terangnya. "Meski Ayang ndak suka keramaian, Aki tau kalo Nini pasti senang melihat mereka makan enak seperti kita. Aki berharap, nafsu makan Nini bisa bagus lagi." Dia menatapku penuh arti. Tangan kanannya mengusap lembut bulir bening yang tiba-tiba menetes dari mata. Belum selesai rasa haru ini, pintu lift sebelah kiri yang berjarak lebih kurang sepuluh meter tepat di arah depan tempat duduk kami, terbuka. Muncul tiga laki-laki, dan berjalan ke arah kami. Mataku terbelalak. Refleks tangan kanan menutup mulutku. "MasyaaAllah ...." Dzaki, Kay, dan Erdo. Ketiga buah hatiku itu, satu-persatu mencium tangan ini, dan memeluk erat. Melepas kerinduan. Hampir dua tahun tidak bertemu pasca lebaran idul Fitri tahun-tahun sebelumnya. Serasa sangat lama, dikarenakan mereka semua bertempat tinggal dan bekerja di kota yang berbeda-beda. Hanya Erdo, istri, dan Zahra, anak bungsunya yang baru saja tamat SMA, yang bisa datang lebaran tahun lalu. Teringat saat kusakit, "Aki ..., Nini kangen anak-anak. Pasti rame kalo cucu dan cicit pada kumpul ya, Ki. Tapi, jangan kasih tau mereka kalo Nini sakit. Ndak enak. Nanti mereka jadi repot. Lagipula Nini cuma sakit biasa," pintaku. Lift sebelah kiri kembali terbuka. Beberapa orang keluar dari sana. Diikuti lift sebelah kanan. Total belasan orang yang yang keluar, dan semua mendekat ke arah kami. "Buyut Niniii ....!" teriak anak laki-laki berumur lima tahun. Farel, cucunya Dzaki dari anak keduanya. Seketika aku berjongkok dan menangkapnya ke pelukan. Disusul cicit-cicit yang lain. Bergantian merengek ingin digendong olehku dan suami. Tak ketinggalan, para mantu solehahku, dan cucu-cucuku, ikut membaur bersama kami. Terakhir, kulihat Zahra, cucuku yang tahun ini baru saja memasuki semester empat masa kuliahnya di Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir. "Barakallahufik, Eyang Niniiii ...!" ucapnya sambil membawa kue tart bulat berwarna biru dongker, tanpa lilin, dihiasi dengan butter krim berbentuk bunga warna pink. Ahh ..., aku lupa. Hari ini, tanggal lima Januari, bilangan usiaku bertambah, dan jatah umurku berkurang. Semoga hidupku makin berkah. Aku tak bisa berucap apa-apa. Bahkan cucuku, Zahra, rela jauh-jauh datang dari luar negeri, hanya untuk merayakan hari bahagia ku ini. Seketika terngiang di telingaku, potongan surat Ar-Rahman, ”Fabiayyi alaa’i rabbi-kumaa tukadzdzibaan, maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?”

Inspirasi Lainnya
Produk Pilihan

Paket Muhammad Teladanku (MUTE).

Detail
Rekomondasi Blog