Kisah Hikmah Sygma Daya Insani

Mengintip Kisah Guru Besar Indonesia, Buya Hamka

Mengintip Kisah Guru Besar Indonesia, Buya Hamka

Oleh administrator | Jum'at, 25 November 2016 03:37 WIB | 20084 Views

Ayah Bunda, nama Haji Abdul Malik Karim Amrullah cukup asing di telinga masyarakat, bahkan di kalangan sastrawan. Namun, ketika nama Buya Hamka disebut, tentu orang familiar sosoknya. Pahlawan Nasional ini popular sebagai seorang ulama, pujangga, pejuang kemerdekaan, anggota Konstituante, aktivis Muhammadiyah, dan akademisi.

Mengintip Kisah Guru Besar Indonesia, Buya Hamka

 
Ayah Bunda, nama Haji Abdul Malik Karim Amrullah cukup asing di telinga masyarakat, bahkan di kalangan sastrawan. Namun, ketika nama Buya Hamka disebut, tentu orang familiar sosoknya. Pahlawan Nasional ini popular sebagai seorang ulama, pujangga, pejuang kemerdekaan, anggota Konstituante, aktivis Muhammadiyah, dan akademisi.
 
Hamka juga diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku, atau seseorang yang dihormati. Ayahnya adalah Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang dikenal sebagai Haji Rasul, yang merupakan pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.
 
Dia dikenal lewat karya-karyanya yang menggugah. Tenggelamnya Kapal van der Wijck, Di Bawah Lindungan Kabah, dan Tafsir Al-Azhar adalah sederet karya monumentalnya. Karya itu identik berkisah percintaan yang mendayu-dayu. Kecuali buku serius mirip Tafsir Al-Azhar yang dikerjakannya dari renungan di bilik terali besi pada era Orde Lama.
 
Tadarus Cinta Buya Pujangga hadir sebagai upaya untuk mengenal sosok peraih doktor kehormatan Universitas Al Azhar tersebut. Akmal Nasery Basral mencoba mengonstruksi kehidupan dari sisi perjuangannya dalam merengkuh hidup. Meski terasa singkat, novel ini mampu menggambarkan perjalanan hidup Hamka (1908-1981) yang pernah menjadi joki kuda hingga sukses menjadi sastrawan besar.
 
Uniknya, lembaran pertama malah diisi dengan kisah Hamka yang ditunjuk pemerintah sebagai imam shalat jenazah untuk almarhum Bung Karno pada Minggu, 21 Januari 1970. Meski sempat dipenjara lantaran terlalu keras mengkritik kebijakan Sang Proklamator, Hamka mencoba berdamai dengan hatinya. Dengan ikhlas, ia melupakan segala permusuhannya dengan Bung Karno dengan melepas jenazahnya.
 
Kemudian, cerita bergulir dari getirnya Hamka yang melihat kedua orang tuanya bercerai. Dia merasa dekat dengan alam. Hamka yang kalau menangis bisa meraung-raung langsung berhenti seketika saat menatap pemandangan Danau Maninjau.
 
Tidak heran, ia paling senang menghabiskan waktu di danau paling terkenal di Sumatra Barat itu. Ayahnya, Haji Rasul yang menganggap kegiatan anaknya itu sia-sia sering memberikan hukuman fisik untuknya.
 
Beranjak dewasa, setelah nekat berhaji dengan bekal seadanya dan menuntut ilmu di Tanah Suci, Malik—panggilan kecil Hamka—berubah pikiran. Dia tidak ingin menetap di Makkah, melainkan memutuskan balik setelah dipengaruhi Haji Agus Salim.
 
Hamka memilih jalan untuk berkiprah di negeri sendiri, merintis menjadi penulis dan pujangga. Sementara itu, bekal yang ia peroleh selama perantauan keliling Nusantara mengukuhkan kecakapannya sebagai seorang ulama.
 
Wawasan Hamka semakin luas setelah sempat menimba ilmu di Yogyakarta kepada HOS Cokroaminoto selama beberapa bulan. Dari interaksinya dengan pahlawan nasional tersebut, ia memperolah cakrawala baru dalam memandang tantangan sosial terkini terkait upaya perjuangan melawan penjajahan Belanda maupun menghadapi gerakan komunis yang mulai menyebar di masyarakat.
 
Pada tanggal 24 Juli 1981 HAMKA telah pulang ke rahmatullah. Jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Beliau bukan sahaja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sastrawan di negara kelahirannya, bahkan jasanya di seantero Nusantara, ter masuk Malaysia dan Singapura, turut dihargai.
 
Atas jasa dan karya-karyanya, HAMKA telah menerima anugerah penghargaan, yaitu Doctor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar Cairo (tahun 1958), Doctor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia (tahun 1958), dan Gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia.
 
Sumber: republika.co.id, bio.or.id, biografiku.com
 

Produk Pilihan

Paket 64 Sahabat Teladan Utama (64 ST.

Detail
Rekomondasi Blog