Parenting dan Anak Sygma Daya Insani

Takaran Cinta yang Salah Membinasakan Anakmu

Takaran Cinta yang Salah Membinasakan Anakmu

Oleh administrator | Senin, 20 November 2017 11:01 WIB | 58722 Views

Pernahkah melihat atau mungkin mengalami sendiri ketika menakar tepung saat membuat kue kurang atau lebih? Bagaimana hasil kuenya? Tentunya tidak seperti yang diharapkan. Sudah mencontek resep namun karena tidak ada timbangan yang memadai, akhirnya menggunakan sejata kira-kira, menakar tepung pun meleset jadinya. Apapun itu, ketika ada salah dalam penakaran, tentu hasilnya tak maksimal. Demikianlah orang tua sering melakukannya.

Pernahkah melihat atau mungkin mengalami sendiri ketika menakar tepung saat membuat kue kurang atau lebih? Bagaimana hasil kuenya? Tentunya tidak seperti yang diharapkan. Sudah mencontek resep namun karena tidak ada timbangan yang memadai, akhirnya menggunakan sejata kira-kira, menakar tepung pun meleset jadinya.

Apapun itu, ketika ada salah dalam penakaran, tentu hasilnya tak maksimal. Demikianlah orang tua sering melakukannya.

“Bu, ayo beli bolo-bolo! Aku suka makan ayam itu!”

“Eh, makan ayam goreng di rumah aja. Rasanya sama!”

“Engga mau! Enakan bolo-bolo”

Si anak berusia 4 tahun lebih itu pun mengambek. Apa yang dilakukan oleh ibunya? Lets go to buy bolo-bolo! Bahkan ketika anaknya meminta Ipad pun dibelikannya.
Takaran cinta yang tidak tepat ini menyebabkan tangki cinta anak bocor. Sedikit demi sedikit atau mengucur deras ke bawah sampai habis. Jika sudah habis, berbahaya. Bahaya yang ditimbulkan di antaranya:
 
  1. Anak menjadi mudah membangkang
Bagaimana tidak, bukankah selama ini keinginannya senantiasa dipenuhi? Bukankah selama ini maunya apa orang tua siap memberikannya? Namun, rupanya ini bisa menjadi serangan balik yang berbahaya. Orangtua kelabakan dan akhirnya kalah.
 
Membangkang sangat mungkin terjadi manakala takaran cinta orang tua salah. Karena anak membangkang, orang tua pun marah. Dan kerena kemarahan orang tua ini, tangki cinta anak terhadap orang tua bocor. Anak menanggap bahwa orang tuanya tak pernah sayang.
 
  1. Anak menjadi mudah marah
Bahkan bisa menjadi adegan yang memalukan didepan umum. Anak guling-gulingan di swalayan, menjadi pemandangan yang sangat biasa. Meminta permen tidak dituruti, padahal orang tuanya juga tahu bahwa anaknya sedang batuk. Namun apa daya, kebiasaan orang tua membelikan permen kapan saja sudah mendarah daging dalam diri anak. Ketika saja keinginan anak tidak didapatinya, walaupun wajar karena sakit, anak marah besar. Menangis, teriak-teriak, guling-gulingan, menjadi senjata andalan.
 
Siapa yang salah? Orang tuanya. Ayah Ibunya kurang tegas terhadap aturan makan permen. Selam ini anak minta permen senantiasa diberikan tanpa pikir panjang.
 
  1. Anak menjadi pemalas
“Emang aku sih yang salah. Pas ada pembantu engga pernah melatih anak-anak untuk mandiri. Sekarang, susah sekali memulai kembali. Terkadang sampai sapu ini melayang”
 
Orangtua mana yang mau melihat anaknya menjadi pemalas? Tidak ada yang mau. Inilah yang membuat orang tua gusar. Masih anak-anak sudah pemalas, bagaimana nantinya. Hidup mereka akan seperti apa?
 
Kehadiran pembantu memang sangat membantu. Tentunya hal ini harus disikapi dengan benar, bukan malah semua pekerjaan dilimpahkan kepada pembantu. Apa yang bisa dilakukan anak sendiri, seyogyanya sedari kecil juga tetap dilatih. Seperti cuci piring sendiri, menyiapkan keperluan sekolah sendiri dan sebagainya.
 
  1. Anak menjadi egois
“Ih ini kan boneka ikan Qowwiy. Kok direbut sih?”
“Loh bukannya itu punya adik , mas? Punya Qowwiy kan boneka Thomas”
 
Adiknya tak mau kalah. Saya berusaha menjelaskan baik-baik, Qowwiy tak mau melepaskan boneka ikan kepunyaan adiknya. Padahal di tangan satunya dia sudah memegang boneka Thomas. Saya minta untuk bertukar boneka, Qowiyy juga menolak. Boneka Thomas tetap digenggam erat. Gara gara selama ini dituruti dan dipenuhi apa yang berbau Thomas, Qowwiy menjadi anak yang egois.
 
  1. Anak menjadi mudah mengeluh
Apa yang terjadi jika tiap hari orang tua mengeluh? Apakah anak akan sembuh dari kebiasaan mengeluhnya? Tidak! Anak akan bertindak sebaliknya. Makin menjadi mengeluhnya, makin menganggap orangtuanya tak menyayanginya. Tiap hari hanya marah yang diterimanya. Anak semakin bocor tangki cintanya. Siapa salah?
 

Parenting dan Anak Lainnya