Parenting dan Anak Sygma Daya Insani

MEMPERSIAPKAN GENERASI TERBAIK MUSLIM

Rabu, 07 Februari 2018 20:47 WIB | 4653 Views

Bagaimana kami bisa berharap generasi muslim masa depan bisa menjadi pemimpin jika startnya saja sudah tertinggal jauh? Bagaimana kami bisa berharap kaum muslim menguasai ilmu dan teknologi jika pendidikan dasarnya saja kalah? Disini kami merasa tertampar.

Di suatu hari yang indah, jaman dahulu kala anak-anak batch 1 masih kecil-kecil, kami sekeluarga bertamasya ke daerah Lembang..seperti keluarga bahagia pada umumnya. Afra dan Arsyad masih balita, Akhyar sekitar 9 tahunan.

Lalu, mampirlah kami di suatu tempat bernama Rumah Sosis (entah sekarang masih ada nggak ya?). Demi melihat anak-anak lain membawa sosis segede-gede gaban, anak-anak kami pun tertarik. (Dulu saya belum jualan sosis premium tanpa MSG itu). Lalu kami pun menikmati sosis sambil melihat-lihat bagian belakang wahana. Ada dua kolam renang disitu. Kolam dewasa yang cukup besar dan kolam anak-anak yang pendek dan bertabur bola plastik aneka warna. Tentu saja anak-anak kami tertarik dan berterjunan di kolam kecil. Ya mereka seperti emaknya belum berani juga di kolam dewasa. Mereka ribut kesana kemari lempar-lemparan bola.

Sampai beberapa saat kemudian kami memperhatikan seorang anak kecil, mungkin 7 tahunan beretnis keturunan sedang asyik berenang di kolam dewasa. Saya tertegun..what the tuuut...why...why..? Saya yang orang darat tulen ini ga pernah kepikiran sama sekali bahwa seorang anak kecil bisa berenang di kolam dalam. Wong saya aja ga bisa 🙈.

Kami pun pulang dengan masygul...malu..ya malu..bukankah Rasul kami yang menyuruh anak-anak diajari berenang? Kenapa kami dengan konyolnya hanya membiarkan mereka berkecipuk kecipak seperti bebek?

Di perjalanan pulang, dan hingga beberapa hari kemudian, saya dan suami membahas hal ini. Bukan hanya berenang, tapi juga hal lain. Kami cek kembali skill dan kapasitas anak-anak kami di bidang lain. Matematika, olahraga, sains, bahasa asing, skill dan keahlian khusus. Dan terpaksa kami kembali menelan ludah. Kami kalah jauh..ya kalah jauh dengan mereka. Padahal Allah mengamanahkan kami anak-anak yang cerdas. Tapi mengapa kami lalai?

Bagaimana kami bisa berharap generasi muslim masa depan bisa menjadi pemimpin jika startnya saja sudah tertinggal jauh? Bagaimana kami bisa berharap kaum muslim menguasai ilmu dan teknologi jika pendidikan dasarnya saja kalah? Disini kami merasa tertampar.

Kami pun segera melakukan rapat keluarga. Berbagai strategi baru kami buat. Kami tanya anak-anak, mau, bersedia dan sanggup belajar apa? Kami ajari mereka, atau kami carikan tempat belajar. Kami buat program untuk mengejar ketinggalan.

Terseok kami berlari. Saat kami merasa sudah bisa sesuatu, dan melihat mereka lagi, saat itu pun kembali kami merasa kalah. Kembali kami tertampar..usaha kami ternyata masih belum cukup. Kelak ini salah satu yang menyebabkan kami memutuskan memilih jalur homeschooling.

Hingga saat ini, kami masih kalah jauh. Mendengar anak mereka menyelesaikan grade 9 piano sebelum usia 10 tahun, kami merinding. Mendengar anak mereka tembus kampus terbaik di dunia, kami gemetar. Mendengar anak mereka mulai menguasai bisnis start up kami gamang. Mendengar anak mereka menguasai berbagai bahasa asing kami degdegan. Mendengar anak-anak mereka merajalela di berbagai olimpiade sains kami terpuruk. Mendengar mereka menemukan teknologi baru yang bisa menguasai dunia, kami pun luruh. Allah..ampuni kami. Ampuni kami yang belum mampu mendidik anak-anak kami untuk menjadi khalifah di bumi mu.

Mendengar sebagian anak-anak Muslim kembali ke jaman batu saat percaya bumi itu datar, kami pun beristighfar. Kesedihan yang dalam merasuk hati. Ya Allah..jangan kau adzab kami karena kebodohan kami. Ya Allah, lindungi anak-anak kami dari penguasaan manusia dan dari fitnah dajjal.

Parenting dan Anak Lainnya
Produk Pilihan

Paket Wahana Bermain Anak Cerdas (WBA.

Detail
Rekomondasi Blog
  • SABAR Kamis, 13 Desember 2018 03:03 WIB