Parenting dan Anak Sygma Daya Insani

Yuk Ajak Anak Mencintai Ilmu

Yuk Ajak Anak Mencintai Ilmu

Oleh Aty Andariny | Senin, 03 Desember 2018 11:18 WIB | 3289 Views

Dalam aktivitas pembentukan ilmu dan pemikiran, harus disertai kejelasan dasar yang dipakai sebagai landasan oleh kedua orang tua, agar upaya yang mereka lakukan terjamin keselamatannya, banyak pengetahuannya dan pemikirannya. Sebab, pembentukan keilmuan merupakan unsur terpenting dalam membentuk pribadi anak, karena terkait dengan pembentukan otak dan pola pikir anak. Apabila pembentukan yang dilakukan benar, tentu si anak akan menjadi baik dan merupakan kabar gembira bagi kedua orang tua, namun sebaliknya, kalau pembentukan yang dilakukan salah, si anak justru menjadi musuh bagi kedua orang tua yang memerangi mereka dari dalam dan menyebabkan mereka masuk ke dalam Neraka Jahannam, Na’udzubillah.

YUK AJAK ANAK MENCINTAI ILMU

 

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penlihatan dan hati, agar kamu bersyukur

(Q.S. An-Nahl :78)

 

Ibnu Abbas berkata:

Rasulullah SAW bersabda, “Ajarilah. Mudahkan, jangan menyulitkan. Berilah kabar gembira, jangan membuat orang lari. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya diam” (H.R. Bukhari)

 

Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Perintahkanlah anak-anak kalian menuntut ilmu”. (Kanzul ‘Ummal (16/584)

 

 Dalam sejarah, belum pernah ada agama seperti agama Islam dalam (kelengkapan) ajarannya kepada setiap pemeluknya. Tidak ada pemikiran di dunia ini yang memberikan bimbingan kepada para penganutnya seperti (metodologi dalam) pemikiran Islam.

 

Dalam aktivitas pembentukan ilmu dan pemikiran, harus disertai kejelasan dasar yang dipakai sebagai landasan oleh kedua orang tua, agar upaya yang mereka lakukan terjamin keselamatannya, banyak pengetahuannya dan pemikirannya. Sebab, pembentukan keilmuan merupakan unsur terpenting dalam membentuk pribadi anak, karena terkait dengan pembentukan otak dan pola pikir anak. Apabila pembentukan yang dilakukan benar, tentu si anak akan menjadi baik dan merupakan kabar gembira bagi kedua orang tua, namun sebaliknya, kalau pembentukan yang dilakukan salah, si anak justru menjadi musuh bagi kedua orang tua yang memerangi mereka dari dalam dan menyebabkan mereka masuk ke dalam Neraka Jahannam, Na’udzubillah.

 

Kita perhatikan bahwa dasar-dasar pembentukan ilmu perlu memberikan solusi bagi anak dari dalam agar dapat berjalan pada jalur ilmu: belajar dan cinta kepada ulama. Di sini menjadi jelas tentang pentingnya peran kedua orang tua dalam mencari guru yang saleh bagi anak mereka, yang nantinya akan menjadi cermin bagi hati dan akal si anak. Oleh karena itu, dasar-dasar yang dibutuhkan oleh kedua orang tua ini harus dikenali.

 

Masa kanak-kanak adalah masa belajar dan menuntut ilmu. Hal ini diwariskan dari generasi ke generasi. Mendorong para orang tua untuk menganjurkan anak-anak menuntut ilmu dan mencintai para ulama, karena “Menuntut Ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim” , baik dewasa maupun anak-anak, laki-laki maupun perempuan. Menuntut ilmu adalah ibadah terbaik yag dipergunakan sebagai media oleh seorang manusia untuk mendekatkan diri kepada Rabbnya.

Oleh karena itu, masa kanak-kanak adalah masa paling subaur untuk pembentukan ilmu dan pemikiran.

 

Setelah ilmu pengetahuan dan menuntut ilmu tertanam kuat dalam diri anak dan dipahami dengan baik, dia sendiri yang akan melakukannya. Dia akan sanggup memikul segala beban dalam menuntut ilmu. Dia akan begadang di malam hari untuk belajar, tanpa perlu didorong lagi oleh kedua orang tuannya.

 

Para sahabat dan ulama salaf sangat bersemangat untuk memilih guru yang shaleh bagi anak-anak. Berikanlah perhatian besar dalam masalah ini. Demikian juga dengan guru yag akan menjadi cermin bagi si anak yang merefleksikan segala gerak-gerik dan tutur-katanya untuk kemudian terpatri dalam jiwa dan akal si anak. Guru merupakan sumber penyerapan ilmu bagi anak.

 

Diantara besarnya perhatian (Guru dan orang tua) mereka, mereka memberikan nasihat ke pada anak-anak untuk menerapkan adab-adab sebelum menuntut ilmu, untuk membentuk akhlak Islami anak. Kalaupun hal itu menuntut dilakukannya suatu perjalanan untuk sampai ke tempat si guru yang shaleh, tetap mereka lakukan dengan senang hati dan tanpa beban atau kesulitan. Kita tahu bahwa perjalanan terutama yang jauh memberikan beban finansial kepada kedua orang tuanya. Tetapi untuk membangun mentalitas anak cinta ilmu pengetahuan secara sehat dan benar, sebesar dan semahal apapun biaya yang diperlukan terasa ringan untuk dikeluarkan.

Oleh karena itu, Ibnu Sina dalam kitab As-Siyasah mengatakan, “Sepatutnya anak memiliki guru yang pandai, taat beragama, berakhlak mulia, mengerti kemauan anak, bersahaja, berwibawa, tidak sering bercanda, tidak suka marah, tidak suka membentak, dan tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak layak di hadapan anak, tidak keras dan kasar, murah senyum, cerdas, enak dipandang, bersih dan rapi.”

 

Dengan dasar inilah para penguasa kaum Muslimin mencari guru yang shaleh untuk mendidik dan membimbing anak-anak mereka.

 

Sumber :

Propethic Parenting Cara Nabi Mendidik Anak

Dr. M. Nur Abdul Hafizh Suwaid

Pro-U Media

 

Parenting dan Anak Lainnya
Produk Pilihan

Paket 24 Nabi Dan Rasul Teladan Utama.

Detail
Rekomondasi Blog