Parenting dan Anak Sygma Daya Insani

Ayah Bunda, Yuk Kenali  7 Karakteristik Generasi Alfa

Ayah Bunda, Yuk Kenali 7 Karakteristik Generasi Alfa

Oleh Sygma Inovation | Selasa, 02 April 2019 10:40 WIB | 18797 Views

Apa itu generasi alfa atau yang lebih dikenal sebagai generasi “digital native”? Nah, ayah bunda yang memiliki anak di zaman now, perlu mengenali karakteristik mereka. Tentu harapannya agar kelak mereka tumbuh menjadi anak yang cerdas akal dan mulia akhlaknya. Sebelum mengenali karakteristik dari generasi ini, simak yuk pemahaman mengenai ‘Generasi Alfa’ ini. Generasi alfa adalah anak-anak yang lahir dari tahun 2010 lalu. Generasi ini biasanya dilahirkan dari orang tua generasi milenial (kelahiran tahun 1981 sampai tahun 1995).

Kelak, generasi ini tumbuh paling banyak di antara generasi yang pernah ada. Sekitar 2,5 juta generasi Alfa lahir setiap minggunya. Bayangkan pertumbuhan penduduk di tahun 2025 dengan 2 miliar jiwa generasi alfa ini.
 
Ayah bunda perlu mengenali perbedaan mereka dengan generasi terdahulunya. Yaitu generasi Z yang lahir di pertengahan tahun 1990-an sampai pertengahan tahun 2000-an.
 
Anak-anak generasi Alfa berbeda dengan generasi orang tua mereka. Bahkan dengan generasi Z yang tepat di atas mereka. Seperti apa karakteristik para digital native ini?
 
Ada 7 karakteristik generasi alfa, antara lain:

  1. Generasi alfa adalah generasi yang paling terdidik di antara generasi sebelumnya
  2. Generasi alfa akrab dengan teknologi
  3. Generasi yang terbiasa mengakses informasi melalui internet
  4. Bagi mereka, jarak semakin tidak berarti. Ruang dan waktu seolah tanpa batas.
  5. Pergaulan generasi ini tidak lagi ditentukan oleh faktor lokasi.
  6. Generasi yang paling sejahtera.
  7. Piawai menggunakan tombol touchscreen untuk mengakses program sistem operasi ponsel (contohnya android dan iOS yang paling banyak dipakai).
 
Ketujuh karakteristik ini sangat mudah dikenali pada generasi alfa. Meski kadarnya berbeda-beda pada setiap anak, sesuai pengaruh lingkungan terdekat mereka.
 
Namun, dengan kemudahan jangkauan teknologi ditunjang infrastruktur yang ada, tidak dipungkiri bahwa mereka pantas disebut sebagai generasi digital native. Dan ini tidak saja ditemui di negara maju, tetapi juga di banyak negara berkembang seperti Indonesia.
Ibaratnya pisau, karakteristik ini bisa berdampak positif atau negatif bagi masa depan anak. Maka ayah bunda perlu memahami karakteristik generasi anak-anak mereka ini.
 
Sayangnya, ayah bunda malah ‘kebablasan’ dalam mendidik generasi alfa ini. Contoh buruknya seperti menjadikan gawai atau ponsel pintar sebagai ‘pengasuh’ bagi buah hatinya, terlalu dini mengenalkan teknologi tersebut pada anak, membebaskan anak untuk berinteraksi dengan gawai, dan lain sebagainya.
 
Lalu, apa yang harus dilakukan oleh ayah bunda agar hal tersebut tidak menghambat tumbuh kembang anak? Di artikel berikutnya akan dibahas mengenai tips untuk mendidik generasi alfa. Apa saja tipsnya? Nantikan segera, ya.

Parenting dan Anak Lainnya