Parenting dan Anak Sygma Daya Insani

Kebangkitan Islam Bagi Peradaban dan Perdamaian Dunia.

Kebangkitan Islam Bagi Peradaban dan Perdamaian Dunia.

Selasa, 23 April 2019 09:20 WIB | 10857 Views

Islam tak pernah jatuh, maka ia tak perlu bangkit. Namun Islam ada risalah yang Allah turunkan kepada umat manusia melalui Rasulullah SAW. Pada awalnya, pemeluk agama Islam sedikit. Namun dengan penyampai risalah yang sempuran sekaliber Rasulullah maka agama Islam mulai menyebar. Dengan sentuhan kasih sayang, kebersahajaan, dan kepemimpinanan Rasulullah Muhammad SAW agama Islam mulai diterima oleh banyak kalangan. Semakin banyak yang memeluk agama Islam. Para sahabat, dengan niat menyebarkan agama, bukan memaksakan, mulai memperluas sentuhan Islam ke tanah-tanah luar Arab. Mulai dari 40 tahun setelah kelahiran Rasulullah SAW sampai sekarang, tak terhitung jumlah penganut agama ini. Termasuk kita.

Saat ini, bicara Islam seolah menjadi sempit: Islam adalah penganutnya. Pandangan ini memungkinkan terjadinya gambaran “terpuruknya umat islam adalah jatuhnya Islam.” Padahal (tentu saja) tidak! Namun demikian pernyataan itu tidak salah. Ketika banyak ilmuwan penemu banyak hal adalah muslim, maka dunia terasa bersinar. Ketika umat muslim semakin dekat dengan agamanya maka Islam seperti membawa lentera ke penjuru dunia. Melalui ilmu pengetahuan, sebagian penemuan ilmuwan muslim menjadi dasar rujukan penemuan selanjutnya. Kedekatan manusia kepada Al-Quran membuka banyak fenomena alam, tabir pengetahuan yang sejak dulu tertera dalam Al-Quran namun baru terbuka saat sarana untuk membuktikannya bahkan baru ditemukan. Dunia pernah merasakan manisnya Islam yang dilihat melalui keberadaan sosok-sosok penganutnya. Cahaya Islam yang menyebar membentuk peradaban dan perdamaian. Oleh karenanya, bila saat ini terlihat Islam terpuruk, maka itu berarti kitalah, para penganutnya yang ‘jatuh’, atau lebih tepatnya ‘jauh’, dari agama ini. Dalam sebuah kesempatan, seorang pria non-muslim terpelajar berkata ia tertarik pada ‘Islam’, bukan pada orangnya. Karena katanya, ia sering melihat orang Islam melanggar lampu merah,dan ketidakdisiplinan sejenis. Begitulah, mengamati apa yang sering terjadi disekelilingnya, ia mengambil kesimpulan ia tidak suka orang islam. Kelihatan bahwa pria itu mencoba objektif. Memang demikianlah adanya, bila seorang muslim melakukan kesalahan maka lihatlah kesalahan itu sebagai kesalahannya, bukan kesalahan Islam. Dalam sebuah hadis dikatakan bahwa agama adalah nasehat. Ini berarti agama adalah penyampaian hal-hal baik. Dari sisi pemeluknya, muslimin dan muslimah, sebagai representasi dari agama Islam, maka esensi agama adalah dakwah, amar makruf nahi munkar, mengajak kepada kebaikan, dan menasehati agar menjauhi keburukan. Allah berfirman bahwa tugas nasehat ini adalah kausa ‘saling’, ‘Saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran (Q.S. Al-Ashr: 3). Maka berkaitan dengan keterpurukan Islam mungkin sekali karena hal ini: kita meninggalkan kewajiban dakwah, menyampaikan kebenaran dan menasehati untuk menjauhi kemungkaran. Dengan kata lain kebangkitan Islam agar berperan bagi peradaban dan kedamaian dunia bisa diwujudkan dengan berdakwah, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Siapa yang dinasehati? Diri sendiri, kemudian keluarga, dan masyarakat. Sesederhana itu kah? Bagaimana hal kecil bisa mengubah hal besar? Ya, begitulah. Sebagaimana hal kecil seperti membicarakan orang lain yang tidak jelas salah benarnya bisa mengakibatkan perkelahian dan hal buruk lainnya, maka menasehati agar berbaik sangka akan menimbulakan kedamaian dalam hati sendiri dan menjauhkan banyak pihak dari perseteruan. Belum terlambat. Mari kita mulai. Dari siapa? Dari diri sendiri diikuti dengan orang-orang terdekat, lalu masyarakat, sesuai kemampuan kita. Dikatakan bahwa bila ingin menghancurkan sebuah negara maka hancurkan institusi keluarga dan institusi pendidikannya. Saat ini ada dua macam perang, yang keduanya sama-sama menghancurkan. Kedua jenis perang ini menghancurkan dua intitusi yang disebutkan di atas. Perang fisik seperti di Palestina. Perang-perang ‘saudara’ seperti di Syria yang memang dirancang oleh orang-orang yang memang tak ingin melihat muslim hidup tenang. Perang-perang yang didisain oleh pemilik bisnis senjata yang tak ingin gulung tikar. Selain itu perang-perang fisik lainnya yang berkaitan dengan ekonomi namun terkadang ditutupi isu agama, atau sebaliknya: perang yang berkaitan dengan isu agama namun ditutup oleh hal-hal yang berbau dolar, si mata uang dunia. Perang non-fisik seperti yang hasilnya sebagaimana sudah diperkirakan Rasulullah dalam sabdanya, “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya, “Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” “Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih yang mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakin Al-Wahan.” “Seseorang bertanyta, Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi SAW bersabda: “Cinta dunia dan takut akan kematian.” (H.R. Abu Dawud) Kita, dijadikan sasaran segala hal yang menjanjikan kemewahan dunia, segala sesuatu yang menjadikan seolah-olah dunia adalah tempat menyenangkan dan untuk berhura-hura saja. Selanjutnya anak-anak kita menjadi sasaran. Mereka beranjak dewasa, para pemuda, dengan tenaga yang besar, kondisi fisik yang prima, pikiran yang haus akan sesuatu yang baru dan menantang, nial dibiarkan tanpa pegangan akan berjalan menuju fatamorgana dunia. Hal-hal yang terlihat menyenagkan namun ketika didatangi tidak memberikan kebahagiaan yang sebenarnya. Kebangkitan Islam itu terletak dalam keluarga dan pendidikan anak-anak kita. Maka yang bisa melindungi para pemuda, agar gemilangnya kembali muslim sebagai tanda kebangkitan Islam adalah bermula dari institusi pendidikan dan keluarga. Institusi pendidikan sebenarnya adalah tempat membangun akal dan jiwa manusia. Rasulullah SAW adalah guru yang menyebarkan kebaikan. Beliau mengingatkan kembali hakikat manusia dan kemanusiaan. Institusi pendidikan diharapkan tidak hanya sekedar mengajar namun menyentuh jiwa anak didik. Oleh karena itu menghancurkan institusi pendidikan juga merupakan cara cepat meruntuhkan generasi. Sasaran yang dilemahkan dimulai dari guru. Bila para guru kehilangan tujuan mulia mendidik generasi maka dampaknya adalah anak-anak yang hanya terpapar kondisi jiwa si guru. Guru yang ganya mengejar gaji. Guru yang hanya menyesali diri karena tak bisa menjaani profesi lain. Guru yang sibuk dengan gadget. Guru yang mudah emosi karena menjadi guru adalah keterpaksaan karena tak punya pilihan. Penting sekali mengingatkan kembali para guru bahwa mereka adalah pembuka cakrawala ilmu sekaligus pendidik jiwa. Anak-anak yang engkau didik adalah penerus generasi dan pembentuk peradaban. Namun demikian, orang tua tidak bisa lepas tangan dengan menitipkan anak-anaknya di sebuah institusi pendidikan. Bahkan sebenarnya tempat anak-anakbelajar adalah rumah dengan ibu sebagai guru dan ayah sebagai kepala sekolahnya. Anak-anak dalam sebuah keluarga adalah sosok-sosok yang membutuhkan perhatian dan bimbingan orang tuanya. Jangan dilepas dengan ungkapan mereka sudah besar. Jangan biarkan mereka berada di jalanan. Mengikuti ‘tren’ zaman dalam bentuk pacaran, sementara berduaan menjadi salah satu pintu masuk syaitan. Anak-anak zaman sekarang, jangan dibiarkan ditemani gadget sepanjang waktu. Jangan biarkan mereka dengan sadar mudah ‘melahap’ gawai dengan segala isinya, tanpa lagi bis amembedakan baik-buruknya. Jangan biarkan gadget dengan tawaran dunia mayanya menculik anak-anak kita karena akan sangat bagi mereka untuk kembali. Karenanya duhai Ayah, Ibu, dibalik sibuknya kita dengan segala macam amanah, jangan lupakan keberadaan anak-anak di rumah. Bila mereka selalu ingin keluar bebas tanpa batas berarti ada yang hilang di rumah. Bila jiwa mereka ‘terpasung’ dunia maya walau raga berada di samping kita, berarti ada yang mereka tidak dapatkan di rumah. Bila mereka justru sangat terbuka pada orang laian namun menutup diri dari kita maka mungkin ada kebutuhan yang tidak terpenuhi dari sebuah institusi bernama keluarga, dengan ayah ibu yang menjadi penggeraknya. Berikanlah waktumu Ayah, Ibu. Mengenalkan mereka pada penciptanya dan mengajarkan syariat agama adalah hal yang akan menjadi sandaran kuat bagi mereka di masa depan. Mereka akan dewasa, maka membersamai anak-anak tumbuh besar adalah kesempatan yang tidak bisa di ulang. Mendoakan mereka dan menitipkan mereka kepada Allah akan nejadi hal yang menenangkan hati, jiwa, dan pikiran. Bila ada hal-hal yang salah dalam pengasuhan kita terhadap anak-anak kita, maka kita kembalikan kepada Allah, memohon ampunan Allah dan berdoa agar Allah melembutkan hati kita dan anak-anak kita untuk tetap dalam kebaikan, dalam iman dan islam. Memohon kepada Allah sebaik-baik penjagaan. Dan pada akhirnya, Muslim dan muslimah yang bisa merepresentasikan akhlak Rasulullah yang lembut, berjiwa pemimpin, bersahaja, menjadi contoh yang baik, dan penuh kasih sayanglah yang akan membangkitkan Islam. Kamu salah satunya. Menjadi bagian dari kebangkitan Islam dari sekarang dengan memulai apa yang bisa kita lakukan bagi peradaban dan kedamaian dunia, insya Allah. (Laila Alhikmah)

Parenting dan Anak Lainnya