Parenting dan Anak Sygma Daya Insani

Anak, Amanah Dunia Akhirat

Anak, Amanah Dunia Akhirat

Oleh Sygma Daya Insani | Rabu, 02 Juli 2014 07:39 WIB | 93742 Views

sygmadayainsani.co.id - Anak, Amanah Dunia Akhirat - Setiap anak dilahirkan dengan potensi jasad, akal dan mental ruhani yang siap menerima bentukan lingkungan. Beragam upaya mendidik dan merawat anak dimaksudkan agar mereka menjadi cerdas, sehat, tumbuh dan berkembang. Orangtua pun dengan penuh sem

sygmadayainsani.co.id - Anak, Amanah Dunia Akhirat - Setiap anak dilahirkan dengan potensi jasad, akal dan mental ruhani yang siap menerima bentukan lingkungan. Beragam upaya mendidik dan merawat anak dimaksudkan agar mereka menjadi cerdas, sehat, tumbuh dan berkembang. Orangtua pun dengan penuh semangat mencari-cari jalan mewujudkannya. Namun bagaimana dengan mendidik dan merawat anak menjadi manusia-manusia shalih yang bertaqwa?
Anak, Amanah Dunia Akhirat
Anak termasuk di antara beberapa objek kecintaan yang menjadi fitrah manusia. Allah berfirman, Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, bintang-bintang ternak serta sawah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia, namun di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surge). (QS Ali Imrah: 14)
Fitrah kecintaan terhadap anak ini membuat setiap pasangan suami istri yang belum memiliki anak akan mengupayakan segala jalan untuk memperoleh anak. Mereka berobat ke dokter, mencari pengobatan anlternatif, mengejar teknik-teknik rekayasa kehamilan terbaruseraya memanjatkan doa demi memohon kepada Sang Maha Pencipta.
Namun persoalannya, banyak orangtua berhenti sampai taraf berupaya memiliki anak, namun lupa untuk berencara mendidik dan menjaganya sebagai sebuah amanat dari Allah yang hanya sekedar dititipkan dibawah penghidupan dan pengawasan diri kita dan akan diminta pertanggung jawabannya kelak di hadapan Allah juga.
Amanah yang Suci Islami
Allah swt berfirman, Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah ujian (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS Ath Thaghabun: 14-15)
Mengapa anak disebut secara khusus sebagai ujian bagi orangtua? Salah satunya bisa kita kaitkan dengan sabda Rasulullah saw, Tiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islami). Ayah dan ibunyalah yang kelak menjadikannya Yahudi, Nasrani, Majus (HR.Bukhari).
Ini berarti, anak sebagai amanah dari Allah terlahir dalam kondisi suci, dengan fitrah Islami mengalir di dalam jiwanya. Apakah dia akan menjadi orangyang beriman kepada Allah, berqudwah kepada Rasulullah, berakhlak mulia, bermanfaat bagi masyarakat, amat bergantung pada bagaimana orangtuanya sebagai guru pertama mendidik dan membentuk kepribadiannya.
Namun dengan tiga potensi kemanusiaan yang lekat dalam diri setiap anak manusia yang terlahir ke dunia ini potensi jasad, akan dan mental ruhani- sebagian besar orang agaknya lebih banyak yang berfokus padabagaimana membuat anak menjadi sehat, tumbuh kembangnya sempurnya, kecerdasannya tergali dan life skill-nya terasah.
Padahal, anak shalihah yang akan menjadi dambaan orangtua ketika hidupnya di dunia telah habis edarnya sebagaimana diungkapkan dalam satu hadits, Bila seorang anak Adam meninggal dunia, terputuslah seluruh amalnya, kecuali tiga (hal): sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan orangtuanya. (HR.Muslim)

Berupaya Sejak Mulanya
Pertanyaannya, sudahkah anak kita disiapkan menjadi anak yang shalih?
Merencanakan pendidikan anak menuju shalih harus dilakukan sejak dini. Kedinian ini menurut Ustadz Prof Achmad Satori Ismail, MA bukan hanya dimulai ketika anak berada di usia golden age, atau semasa bayi dalam kandungan atau di masa janin. Tetapi perencanaan itu justru dimulai sejak seseorang mencari pasangan hidupnya karena akan lebih mempermudah visi perencanaan pembentukan anak shalih.
Kedua, perencanaan kehadiran anak shalih juga bisa dilakukan saat seseorang melakukan hubungan suami istri ini memulai hubungan mereka dengan sebuah doa, memohon perlindungan kepada Allah swt.
Tentu tidak ada orang yang berhubungan suami istri sambil gak niat (tidak sadar red) kan, makanya Islam menuntun suami istri agar sebelum berhubungan, bacalah doa. Agar anak yang mungkin dihasilkan dari hubungan itu terhindar dari gangguan setan, kata Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (IKAD) ini.
Selama kehamilan, banyak ahli menyarankan pemberian stimulus pada janin untuk merangsang kecerdasannya sejak dini. Untuk itu disebutlah bahwa sangat baik bila janin diajak bicara, dielus-elus, diperdengarkan musik klasik sambil tentu saja diberi asupan makanan bergizi.

Ahmad Satori tidak menyalahkan hal ini, hanya saja menurutnya, umat islam semestinya melakukan segala upaya ini dalam koridor Islami. Stimulus terbaik tentunya adalah yang bisa membentuk kepribadian anak tak hanya sehat, cerdas namun juga shalih.
Sementara soal makanan , guru besar Universitas Islam Negeri Jakarta ini mengingatkan orangtua untuk tidak hanya memikirkan jumlah asupannya saja melainkan, pilihlah selalu makanan yang halal dan thoyyib untuk dikonsumsi.

Keteladanan Plus Ajakan
Begitu anak dilahirkan, banyak pula tuntunan Islam yang mengarahkan orangtua untuk mendidik anak meuju shalih. Diantaranya dengan diazan dan diqomatkan saat lahir, diaqiqahkan serta diberi nama-nama baik yang mengandung doa dan harapan baik orangtua.
Tetapi memang banyak juga orangtua yang mencita-citakan anaknya menjadi anak shalih tetapi sayangnya justru tidak membangun support system yangbisa mendukung tumbuh kembangnya keshalihan ini.
Misalnya saja, anak diharapkan rajin beribadah, berakhlak mulia, berbakti kepada orang tua, tetapi orangtua sendiri tidak mencontohkan diri menjadi sosok yang rajin beribadah, misalnya shalatnya jarang atau sering ditunda-tunda, kalau berbicara kasar, banyak hasad dan iri pada tetangga, serta jarang menyambung silaturahim. Tentu saja sulit bagi anak yang dibesarkan orangtua seperti ini untuk membentuk pribadi yang shalih. Sebab, bagaimanapun orangtualah guru pertama anak.
Begitupun, menurut Ahmad Satori, mencontohkan saja tidaklah cukup. Memberi contoh memang jalan terbaik dalam mendidik anak, tetapi kalau tidak diseur, tidak diajak, anak-anak belum terpanggil untuk ikut melaksanakan.
Itu pula sebabnya, anak-anak perempuan pun menurut Satori sebaiknya dibiasakan memakai pakaian yang menutup aurat sejak kecil, terutama saat diajak bepergian. Selain mencontoh ibu yang menutup aurat, anak juga sekaligus diajak dan dibiasakan menutup aurat hingga tidak lagi kagok ketika datang masa wajib menutup auratnya.
Kalau sudah besar baru dilatih pakai jilbabnya, biasanya jadi agak beringasan sedikit, canda lelaki kelahiran Cirebon 53 tahun lalu ini.

Tidak Ada Kata Terlambat
Tetapi jujur saja, tak sedikit memang orangtua masa kini sudah kadung dibesarkan dalam kondisi tidak begitu mampu ilmu agamanya. Bahkan mungkin saja, membaca Qur'an pun belum tentu baik.
Ahmad Satorin membesarkan hati orangtua macam ini dengan analoginya, Dulu pun di zaman Rasulullah berdaqwah, orang-orang dari Bani Quraisy yang masuk Islam pun sudah tua-tua juga usianya baru belajar shalat, ngaji dan lain-lain. Jadi, tidak ada kata terlambat lah. Baik bagi si anak maupun orangtua.
Ketidakmampuan orangtua mengajarkan nilai-nilai keislaman pada anak memang bisa saja didelegasikan pada sekolah, lembaga non formal, guru, kerabat atau kenalan yang mampu. Tetapi yang penting orangtua tetap melihat urgensinya mendidik anak memahami dan mengamalkan nilai-nilai Islam sambil sedapat mungkin tetap membangun dukungan terbaik bagi perkembangan potensi keshalihan anak.
Meski orangtua belum pandai mengaji misalnya, tak ada alasan untuk tidak member contoh kebaikan serta mengajak anak berbuat kebaikan, dalam hal penguatan aqidah, ketekunan beribadah kemuliaan akhlak dan kebaikan dalam bermuamalah.

Pupuk Plus Doa
Tanpa upaya yang sungguh-sungguh dari orangtua untuk memaksimalkan kesehatan, kecerdasan dan keshalihan anak, potensi anak tentu tak bisa berkembang sempurna.
Mungkin saja anak tumbuh dengan sehat karena terpenuhi segala asupan makanan bergizinya, cerdas pula dia karena teroptimalisasi kerja otak kanan kirinya, namun tanpa ditumbuhkan pula ketinggian dan kebeningan mental ruhaninya, anak bisa mengalami kekeringan jiwa.
Ibaratnya pohonlah. Meski bibitnya bagus , kalau tanahnya tidak subur lantas tidak juga diupayakan dipupuk, si tanaman tetap akan jadi tanaman yang kurus, kata suami Ru'fah Abdullah ini pula.
Pupuk ini tentu bisa diibaratkan sebagai stimulus potensi kemanusiaan anak. Maka ketidak imbangan pemberian jenis dan jumlah pupuk ini tentu juga jadi masalah. Minimnya penguatan salah satu potensi kemanusiaan anak, entah fisiknya, akalnya atau mental ruhaninya, tentu akan sulit membentuk anak menjadi generasi unggulan yang sehat, cerdas dan shalih.
Maka dari itu, setiap orangtua muslim sudah seharusnya siap memberi rangsangan bagi perkembangan fisik, akal dan rohani anak. Plus, jangan lupa memohon bantuan ALLAH untuk segala kelacaran usaha kita sebagaimana dicontohkan ara Nabi terdahulu saaat berkata
Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk golongan orang-orang yang Shalih . (QS Ash-Shaaffaat: 100)
Semoga ALLAH meluluskan kita dari ujian menjaga Amanah berat ini , mengembaikan anak-anak yang terlahir dalam kondisi fitrah untuk kala kembali dalam kondisi fitrah pula. (dikutip dari Majalah Ummi)