Seputar Islam Sygma Daya Insani

Ini Alasan Logis Kenapa Puasa Tidak Berpengaruh Apa Apa Terhadap Diri

Ini Alasan Logis Kenapa Puasa Tidak Berpengaruh Apa Apa Terhadap Diri

Oleh administrator | Senin, 12 Juni 2017 09:22 WIB | 83650 Views

Ayah Bunda bagaimana keadaan puasa hari ke 17 ini? Masih semangat kah? Katanya puasa adalah perisai atau tameng dalam diri, tapi apakah kita berhasil menghindari dosa-dosa keseharian? Jika belum, apa yang salah? Apakah puasanya salah atau diri kita yang masih belum bisa memaknai apa arti puasa sebenarnya? Yuk kita simak redaksinya.

Ayah Bunda bagaimana keadaan puasa hari ke 17 ini? Masih semangat kah? Katanya puasa adalah perisai atau tameng dalam diri, tapi apakah kita berhasil menghindari dosa-dosa keseharian? Jika belum, apa yang salah? Apakah puasanya salah atau diri kita yang masih belum bisa memaknai apa arti puasa sebenarnya? Yuk kita simak redaksinya.

Pertama: HR Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ (1099), Imam Bukhari dalam Shahihnya (1894), dan Imam Muslim dalam Shahihnya (1151), dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Puasa itu adalah perisai, maka apabila seorang dari kalian sedang melaksanakan puasa, janganlah dia berkata rafats (kotor) dan jangan pula bertingkah laku jahil (seperti  mengejek, atau bertengkar sambil berteriak). Jika ada orang lain yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka hendaklah dia mengatakan “Aku orang yang sedang puasa, Aku orang yang sedang puasa”. (Ini redaksi dari riwayat Imam Malik).

Kedua: Dalam hadis dengan redaksi panjang, HR Ahmad (5/231), Tirmidzi (2616), dan Ibnu Majah (3973) dari Mu’adz radhiyallahu’anhu, diantara potongan redaksi hadis tersebut adalah: “…Maukah engkau aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, shadaqah itu memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api…”.

Oleh karena itu para salaf begitu hati-hati dari ghibah dan dusta ketika berpuasa. Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata: “Ghibah itu melobangi/mencoreng pahala puasa, dan ucapan istighfar menambal pahalanya, maka barangsiapa diantara kamu yang sanggup melakukan puasa yang tidak terlobangi maka hendaknya ia melakukannya” (HR Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman: 3644).

Hal ini juga senada dengan ucapan Ibnu Al-Munkadir sebagaimana dinukil Ibnu Rajab dalam Jami’ Al-‘Ulum (hal.575) bahwa ia berkata: “Orang yang berpuasa bila menggunjing orang lain, maka puasanya terlobangi, dan bila beristighfar memohon ampunan, maka lobang tersebut akan tertambal”.
 
Oleh Maulana La Eda, L.c

Sumber: wahdah.or.id

Seputar Islam Lainnya
Produk Pilihan

Paket Balita Berakhlak Mulia (BBM).

Detail
Rekomondasi Blog