Seputar Islam Sygma Daya Insani

Pendidikan Karakter yang Diajarkan Nabi Ibrahim Kepada Ismail

Pendidikan Karakter yang Diajarkan Nabi Ibrahim Kepada Ismail

Oleh administrator | Jum'at, 02 September 2016 01:44 WIB | 131042 Views

Mari perhatikan dengan saksama bagaimana Ibrahim menyampaikan perintah berat ini kepada anaknya. Dalam Al-Qur’an dengan sangat disebutkan kata-kata Ibrahim kepada Ismail yang bermakna sebagai beriktut:

Pendidikan Karakter yang Diajarkan Nabi Ibrahim Kepada Ismail


Oleh : R. Marfu Muhyiddin Ilyas, MA

Masih ingat kisah Kurban Nabi Ibrahim?

Baca juga: “Penyembelihan Nabi Ismail a.s”

Mari perhatikan dengan saksama bagaimana Ibrahim menyampaikan perintah berat ini kepada anaknya. Dalam Al-Qur’an dengan sangat disebutkan kata-kata Ibrahim kepada Ismail yang bermakna sebagai beriktut:

“Duhai, Anakku sayang! Semalam ayah bermimpi menyembelihmu. Bagaimana menurut pendapatmu?”

Untuk bisa memahami pesan dalama konteks evaluasi pendidikan karakter dari dialog Ibrahim tersebut, harus dipahami terlebih dahulu bahwa mimpi para Nabi adalah wahyu. Jadi bukan sembarang mimpi. Ketika menyampaikan itu kepada Ismail, Ibrahim tidak menggunakan kata-kata, “Nak, ayah diperintah Allah untuk menyembelihmu.” Padahal sejatinya itu adalah perintah.

Ibrahim mengomunikasikan urusan penyembelihan itu dengan kata-kata bermimpi, seakan-akan penyembelihan itu datang dari dirinya sendiri bukan sebagai sebuah perintah Allah. Mengapa? Di sinilah tersimpan pesan bagaimana seorang ayah menguji karakter anaknya.

Menurut para ahli tafsir Al-Qur’an kenamaan seperti Ar-Razi, Al-Qurthubi, Ibn Katsir, ungkapan yang sedemikian rupa itu dikarenakan Ibrahim ingin menguji setaat dan sepatuh apa Ismail kepada seorang ayah. Dalam momen yang begitu penting, genting, dan dramatikal itu, Ibrahim yang telah mendidik Ismail dengan ajaran tauhid merasa perlu menguji karakter kepatuhan dan hormat seorang anak kepada orang tua.

Cara Ibrahim mengevaluasi karakter Ismail ternyata efektif. Ismail menunjukkan karakter patuh dan hormat kepada sang Ayah dengan memberikan jawaban yang makin membuat Ibrahim sayang dan cinta kepada Ismail,

“Ayah, lakukan saja apa yang diperintahkan kepada Ayah. Insya Allah, Ayah akan dapati aku sabar menghadapi ini.”.

Lalu bagaimana cara menerapkan metode Ibrahim ini dalam kehidupan kita sekarang?

Sebagai orang tua atau guru, tugas utama dalam membentuk karakter anak adalah menanamkan prinsip-prinsip tauhid dan akhlak dalam diri anak sedini mungkin. Ketika wahyu menyembelih diterima Ibrahim, Ismail saat itu baru berusia 13 tahun, seusia anak yang baru lulus SD. Dialog adalah cara terbaik mengajarkan hal ini seperti yang dicontohkan oleh Ibrahim. Ciptakan dialog-dialog tauhid dan karakter di rumah kita, di ruang makan, ruang istirahat, dan di kamar tidur anak. Bahkan dalam setiap kesempatan kita bersama anak.

Biasanya orang tua khawatir dengan perkembangan karakter anak, lalu dengan tergesa-gesa menyuruh kebaikan kepada anak dengan pendekatan doktrin atau bahkan intimidasi. Berikan kepercayaan kepada anak untuk menguji karakter mereka. Misalnya, sesekali biarkan anak berinternet untuk menguji bisakah anak menerapkan karakter yang telah dibangun di rumah saat ia berselancar di dunia maya.

Sesekali izinkan anak bermain ke luar rumah bersama temannya, untuk menguji bisakah anak menerapkan karakter peduli dan disiplin dalam pergaulan. Sesekali suruhlah anak melakukan sebuah tugas rumah, untuk menguji sepatuh apa kepada orang tua. Sesekali biarkan anak bersama adik-adiknya, untuk menguji karakter sayang dan tanggung jawab sebagai kakak.

Sumber: islampos

Comments
  • Sudaryanti

    Reply
    09 September 2016 at 03:53 WIB (GMT +7)

    Subhanallah. Tapi bagaimana ketika kita menguji karakter anak, misalkan dengan memberinya ksempatan bermain diluar, si anak tidak lulus dengan uji karakter tersebut. Apa yg harus kita lakukan pada step selanjutnya??

  • Reply
    06 September 2016 at 14:30 WIB (GMT +7)

Produk Pilihan

Paket 64 Sahabat Teladan Utama (64 ST.

Detail
Rekomondasi Blog