Tips Menarik Sygma Daya Insani

Memaafkan Masa Lalu

Memaafkan Masa Lalu

Rabu, 11 April 2018 21:44 WIB | 54449 Views

Hidup adalah pilihan. Kita lah penentunya. Jalan kebenaran telah terbentang. Bila kita masih bertahan dengan ego dan keangkuhan untuk tidak memaafkan orangtua kita yang sekarang renta atau bahkan sudah meninggal dunia, sanggupkah kelak anak-anak yang kita didik mendendam ini melakukan hal yang sama terhadap kita? Naudzubillah. Lepaskan semua dendam. Gantilah dengan maaf karena Allah kan persiapkan bagi kita pahala kebaikan atas ketaatan yang kita lakukan kepadaNya.

Catatan Seminar 7 Pilar Pengasuhan oleh : Hilmiyatil Alifah

Disampaikan oleh : Bunda Elly Risman

 

Bismillah.

Meminta izin hadir di seminar 7 Pilar Pengasuhan niat awalnya adalah memperbaiki diri dan menambah pengetahuan tentang pola asuh dari ahlinya.

Sadar bahwa menjadi orangtua yang tanpa ilmu hanya akan membenturkan diri pada kebodohan karena terlalu banyak ketidaktahuan untuk mengasuh dan mendidik anak. Bermula dari kesadaran inilah, izin dan niat saya padukan untuk disampaikan ke suami.

Alhamdulillah diizinkan dan bisa hadir bersama kurabg lebih 500 ibu pembelajar. Memulai pelajaran tentang pengasuhan yang tidak didapatkan di bangku-bangku sekolah ilmunya banyak kejutannya. Belumlah kami menikmati snack time, Bunda Elly sudah membuka acara seminar kali ini dengan fakta dan data yang membuat kami shock.

Sedih dan pilu melihat fakta dan data yang bunda Elly paparkan di slide pertamanya. Rasanya ga percaya semua hal itu terjadi di Indonesia😣😭😭😭😢 Slide pertama membuat hati ini menangis. Berikutnya pun begitu.

Slide satu sampai 4 adalah fakta dari kerusakan akhlak anak yang sepenuhnya masih dalam pengawasan orangtua. Saya tidak bisa jelaskan bagaimana detilnya fakta yang bunda Elly sampaikan.

Semoga Anda bisa menghadiri seminar ini. Akhirnya masuklah di slide berikutnya tentang poin pertama dari 7 Pilar Pengasuhan:

1. Kesiapan Menjadi Orangtua

Butuh waktu yang sangat lama bunda Elly menjelaskan poin 1 ini karena sebenarnya di sinilah letak kunci dari akar permasalahan berumahtangga.

Sudahkah kita siap menjadi orangtua? Tanyakan pada diri yang paling dalam untuk menjawab pertanyaan sederhana ini?

Sudahkah kita siap menjadi orangtua dari anak yang sudah kita lahirkan? Jika siap. Pertanyaan akan berlanjut pada :

⚘Bagaimana Anda dulu menikah?

⚘Bagaimana mengenal pasangan Anda, sejauh mana Anda tau gaya pengasuhan orangtuanya?

⚘Sejauh mana Anda dipersiapkan orangtua Anda untuk diperbolehlan menikah karena bekal A dan bekal B sudah Anda kuasai?

⚘Sejauh mana orangtua Anda mempersiapkan Anda menjadi orangtua dari anak-anak Anda?

⚘Tahukah Anda bagaimana perbedaan otak laki-laki dan perempuan?

⚘Sepakat punya anak berapa dulu sebelum menikah? Apakah semua pertanyaan diatas sudah Anda jawab?

Lalu mengapa Anda suka berteriak dan marah kepada Anak anda ketika mereka dianggap menjengkelkan saat Anda sibuk online dengan kawan Anda? Atau Anda suka melotot ketika peraturan yang sudah Anda sepakati dilanggarnya ketika dia berjanji tidak akan berlari saat berada di rumah saudara Anda yang memiliki kristal mewah?

Ada apa dengan Anda? Mengapa Anda melotot, mengancam, mencubit bahkan memukul atau bully verbal ke anak Anda sendiri. Siapa Anda? Ibu yang melahirkannya? Apakah karena Anda ibunya lalu Anda merasa berhak untuk memuntahkan kemarahan Anda kepada mereka? Apa salah mereka sehingga mereka harus menerima makian Anda? Seberapa besar kesalahan mereka? Anda ibunya bukan?

(Nunduk, nangis😭😭😭😭😭)

Hening

Sadarkah kita kalau kita ini Baby Sitternya Allah?

Pantaskah seorang baby sitter meneriaki anak yang telah Allah titipkan? Belum lagi tugas baby sitter ini Anda delegasikan ke orang lain. Hampir semua tugas Anda diberikan ke orang lain untuk dididik.

Lalu Anda akan menuntut kepada anak Anda untuk menjadi orang yang berprestasi ini itu. Anda hanya mengambil peran sebagai bos yang sanggup membayar apa saja asal anak Anda menjadi seseorang yang sesuai keinginan Anda. Urusan mendidik biarkan saja orang lain yang mampu Anda bayar.

Semua sikap ini sadarkah bahwa dalam mengasuh anak kita masih terperangkap di masa lalu. Semua kemarahan kita kita tumpahkan ke anak balita yang belum paham akan aturan, semua emosi kita berujung pada pengasuhan di masa lalu.

INNER CHILD.

Sampai kapan tali INNER CHILD ini akan terputus? Akan terputus sendirikah? Bagaimana bisa bila kita tidak mengusahakannya?

Sadarkah diri saat sudah menjadi orangtua berpuluh tahun sampai sekarang ini di dalam jiwa kita tertinggal pengasuhan di masa lalu, tentang cubitan, makian, mata yang melotot, telunjuk yang beradu dengan dahi, tatapan sinis, yang semua kita terima dari orangtua kita ketika masih kecil? Masihkah rasa kesal itu kita pendam hingga saat ini?

Mengingatnya lalu melanjutkannya untuk diperlakukan ke anak kita yang sering kita akui bahwa kita sayang terhadapnya. Inikah cara sayang kita?

Menghukumnya dengan bekas cubitan yang membiru? Luka dalam akan makian yang tidak sepantasnya dia dapatkan? Inikah pengasuhan kita? Hanya ini sajakah yang bisa kita lakukan untuk menghukumnya?

(Hening)

Kenali INNER CHILD kita agar kita tidak terjebak oleh masa lalu. Anak kecil mengeasuh anak kecil. Sebuah kemustahilan bahwa kita akan membawa perubahan terhadap anak yang akan kita didik. Tidak ada nilai-nilai kebaikan kecuali keburukan yang kita ajarkan kepada anak yang terlahir dari rahim kita.

Luka, luka dan luka yang semakin dalam saja yang kita bisa lakukan untuk menghukumnya. Banyak dari kita yang belum kenal dengan diri kita sendiri. Berada di raga berpuluh tahun lamanya, tapi kita tak tahu bagaimana kita bersikap, merespon dan bagaimana kita berperilaku karena di dalam jiwa kita ada yang rusak dan belum MEMAAFKAN KESALAHAN ORANGTUA KITA DI MASA LALU.

Kita bawa semua luka itu dalam pengasuhan kita. Dan kitalah yang melakukan transfer emosi negatif kepada anak-anak kita sekarang. Sampai kapan akan terjebak dalam INNER CHILD?

SAMPAI KAPAN KITA MENDEMDAM KEPADA ORANGTUA KITA? TIADA KATA YANG LEBIH BAIK MEMBEBASKAN INNER CHILD ini dengan MEMAAFKAN.

Memulai semuanya dengan memaafkan, mengenali kemampuan serta kekurangan diri adalah cara terbaik untuk memulai mengasuh anak. Memotong ikatan-ikatan dendam kita pada masa lalu adalah cara kita melanjutkan pengasuhan tanpa dendam.

Q.S. Al Imran : 159 "Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhdap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang yang bertawakal.

MasyaAllah, adem rasanya membaca terjemah Q.S. Al Imron ayat 159. Allah sudah memberi petunjukNya untuk memaafkan.

Jika petunjukNya tidak kita indahkan, lalu apa yang akan kita pilih selain petunjuk pelitaNya? Hidup adalah pilihan. Kita lah penentunya. Jalan kebenaran telah terbentang. Bila kita masih bertahan dengan ego dan keangkuhan untuk tidak memaafkan orangtua kita yang sekarang renta atau bahkan sudah meninggal dunia, sanggupkah kelak anak-anak yang kita didik mendendam ini melakukan hal yang sama terhadap kita? Naudzubillah.

Lepaskan semua dendam. Gantilah dengan maaf karena Allah kan persiapkan bagi kita pahala kebaikan atas ketaatan yang kita lakukan kepadaNya. Setalah kita "selesai" dengan diri kita. Barulah kita tolong pasangan hidup, ayah dari anak-anak kita.

Mensyukuri diri yang telah dipilih Allah menjadi wanita sekaligus ibu yang telah melahirkan anak-anak kita adalah hal yang perlu kita sadari. Ada berapa banyak wanita di luar sana yang belum menikah? Hadirkan sikap ini agar kesiapan kita dapat kita persiapkan untuk proses mengasuh anak?

Ada berapa wanita yang telah menikah tapi belum mendapatkan amanah mendidik anak? Hadirkan sikap syukur agar kita dapat mendalami kesiapan menjadi orangtua. Menjadi orangtua ada andil Allah. Kita telah dipilihNya untuk menjadi baby sitternya, masih perlukah peran kita untuk dipindahtangankan ke orang lain untuk mengasuh anak kita?

Setelah syukur. Pahami cara komunikasi dengan pasangan dan perbaiki peran kita sebagai istri/suami, sebagai ayah/ibu dari anak-anak yang berada di rumah kita.

RENUNGKANLAH POLA PENGASUHAN KITA. RUBAH SEDIKIT-SEDIKIT DAN RUBAH SEMUA HAL NEGATIF DALAM PENGASUHAN KITA.

 

2. Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan.

Ayah adalah penentu Garis-Garis Besar Haluan Keluarga.

Makna keterlibatan ayah :

# Berapa menit ayah berkomunikasi dengan anak?

Tidak terlibatnya ayah dalam pengasuhan : gizi yang dieperoleh anak tidak seimbang lalu Fisik - Jiwa - Spieritualnya menjadi kosong. Jiwanya sunyi.

Bila ayah malas berbicara dengan anak, bagaimana bisa ayah mengajarkan banyak hal jika tidak dekat dengan anaknya.

Bila ayah tidak dekat dengan anak, rawan terjadi kasus suka sesama jenis. Luangkan waktu untuk mendekat ke anak. Tugas ayah bukan hanya mencari uang saja. Namun ada hal lainnya yang tidak kalah penting yaitu membangun kedekatan terhadap anak.

Tugas ayah :

⚽️ menentukan siapa penanggungjawab pengasuhan anak. Anak akan diasuh siapa? Ibunya atau khadimatnya?

⚽️ayah menyediakan keuangan, makanan, pakaian, rumah dan ini tidak harus mewah. Jadi plis jangan paksa ayah untuk korupsi atau melakukan keburukan lainnya hanya ingin hidup mewah.

⚽️menyediakan pendidikan dan pelatihan serta pemantauan

⚽️menyediakan perawatan diri.

Bila ayah kurang ikut berperan terhadap pengasuhan anak :

🏀Jika anak laki-laki : Nakal Agresif Narkoba Seks bebas.

🌷Jika anak perempuan : Depresi Seks bebas

Konsep harga diri dari keterlibatan pengasuhan oleh ayah : Mengapa ayah harus menentukan siapa yang mengasuh dan menyusui anaknya? Karena perempuan punya musim di dalam hidupnya. Musim menjadi pekerja dan menyusui. Oleh karenanya ayah perlu menentukan siapa yang akan mengasuh anaknya.

🎀 nenek-nenek tidak di desain untuk momong cucu karena :

⛹️♀️perubahan fisik yang menurun

⛹️♀️perubahan hormonal dan emosi

⛹️♀️ tidak duniawi lagi

 

🎖Hak ayah : dicintai, dihargai, dihormati, diperdulikan dan dipercaya. Pulangkan ayah ke rumahnya. Jalani peran ayah. Takutlah sama neraka,

membagi tugas dengan pasangan adalah hal yang harus dilakukan oleh ayah bunda dalam mengasuh

🎏 dunia : akademis, manner, emosi

🎏akhirat : iman, Islam, baca Quran, baca Sirah.

Banyak dari kita yang tidak tahu caranya memaknai hari Besar Islam. Hari-hari libur yang akan kita lalui hanya diisi dengan kegiatan semu.

Padahal ada banyak makna yang membawa hikmah di setiap hari besar umat Islam. Belajarlah dari sejarah untuk tahu makna dari Isra Mi'raj. Kelahiran nabi kita. Bukan hanya memanfaatkan libur tanpa tahu maknanya.

Anak adalah titipan. Bukan pilihan dan bukan pula MUSUH. Didiklah anak sesuai dengan fitrahnya.

 

3. Tujuan Pengasuhan

Sudah jelas bila tidak terumuskan dengan baik. Tidak ada kesempatan antara ayah dan ibu maka tujuan tidak akan tahu.

Kemana arah pengasuhan yang sedang kita jalani saat ini.

Tujuan pengasuhan yang jelas :

🎁anak menjadi hamba Allah/mukmin yang bertakwa, berakhlak mulia dan ibadahnya sempurna

🎁anak kita persiapkan menjadi calon istri/suami yang salihah/salih.

🎁menjadi seorang profesional.

🎁pendidik/pendakwah di dalam keluarganya.

 🎁penanggungjawab keluarga.

 

4. Komunikasi yang baik dan benar.

Menurunkan frekuensi ketika berbicara dengan anak. Membaca bahasa tubuh anak dan memahami perasaan anak. Berbicara yang baik dan benar berlandaskan pada AlQuran. Baik dan benar standardnya AlQuran.

 

5. Orangtualah yang menanamkan nilai agama.

Bukan menitipkannya kepada sekolah atau lembaga lain untuk menanamkan nilai agama. Kekeliruan yang banyak terjadi. Banyak orangtua yang tidak mau terlibat mendidik anaknya ketika sudah menitipkannya kepada sekolah.

Alasan repot atau tidak ada waktu adalah alasan yang paling banyak ditemui. Padahal inilah peran besar yang wajib orangtua lakukan. Untuk apa anak kita sekolah tinggi sampai ke luar negeri, tetapi perilakunya jauh dari AlQuran dan tidak tahu bagaimana memimpin salat jenazah ketika kita meninggalkan dunia?

 

6. Menyiapkan masa baligh.

Sasaran utama adalah anak laki-laki. Yang kedua belum baligh. Dan bila jiwa anak kosong dengan kondisi BLAST (boring, lonely, angry, stress, tired). Inilah yang akan menjadi sasaran narkolema (narkoba lewat mata).

Mengapa Anak laki-laki? Karena mereka otak kirinya lebih kuat daripada wanita, jadi laki-laki lebih fokus daripada wanita. Kemaluannya ada di luar sehingga mudah untuk distimulasi. Bahaya narkoba langsung terlihat dengan keadaan sakaunya korban.

Sedangkan anak yang terkapar dg pornografi kita tidak bisa melihat bahwa otaknya sudah rusak. Naudzubillah.

Kehilangan kontrol diri, volume otak menyusut akibat dari bahaya pornografi. Yang diinginkan oleh mereka anak memiliki perpustakaan porno dan menjadi pelanggannya seumur hidup. Naudzubillah tsumma naudzubillah.

 

7. Bijak memanfaatkan teknologi.

Tidak memberikan handphone kepada anak-anak balita dengan alasan kidz zaman now, anak tetangga/saudara sudah punya semua dan kekhawatiran kita yang lainnya untuk memperbolehkan anak berselancar ke dunia maya dan membuka jalan kepada mata mereka untuk merusak fungsi otak mereka. 

Periksalah 7 pilar pengasuhan Anda. Tidak ada kata terlambat. Balut selalu ikhtiar dengan doa dan banyak bersujud. Cicil hutang pengasuhan kita kepada anak. Rangkul mereka kembali, didik mereka sesuai dengan fitrahnya. Semoga catatan seminar kali ini bermanfaat.

Saya sarankan untuk hadir mengikutinya sampai selesai. InsyaAllah banyak sekali ilmu di luar catatan yang saya bagikan.

Semoga upaya kita menjadi orangtua yang baik, yang siap mengasuh sesuai perintah Allah akan Allah mudahkan dengan bantuanNya. Aamiin

Produk Pilihan

Paket Buku Pintar Iman & Islam (B.

Detail
Rekomondasi Blog