Tips Menarik Sygma Daya Insani

Gadget dan Generasi Digital

Gadget dan Generasi Digital

Rabu, 27 Juni 2018 23:21 WIB | 3431 Views

Ini pengalaman pribadi yang membuat saya benar-benar ‘ngeh’ betapa mudahnya balita/kids jaman now nge-klik dan nge-blend dengan beragam gawai mutakhir sekalipun. Dan betapa mudahnya kemudian gawai tersebut tetiba mengambil alih ‘kendali’ atas anak kesayangan kita, menjadikan mereka begitu cinta dan merindukan untuk selalu berdekatan dengan gawai tersebut dan bahkan mulai menjauhkan mereka dari kita, ibunya.

Ini pengalaman pribadi yang membuat saya benar-benar ‘ngeh’ betapa mudahnya balita/kids jaman now nge-klik dan nge-blend dengan beragam gawai mutakhir sekalipun. Dan betapa mudahnya kemudian gawai tersebut tetiba mengambil alih ‘kendali’ atas anak kesayangan kita, menjadikan mereka begitu cinta dan merindukan untuk selalu berdekatan dengan gawai tersebut dan bahkan mulai menjauhkan mereka dari kita, ibunya. Ceritanya, mulai bayi, Hafidz sudah terbiasa memiliki jadwal ‘membaca’ buku bersama saya. Mulai dari buku bantal, soft teether book, board book hingga sekarang di usianya yang ke-26 bulan Hafidz sudah terbiasa membaca (membuka-buka lembaran) buku-buku kertas tipis tanpa merobeknya, dan betah mengkhatamkan (gambar) di buku-buku tersebut hingga berjilid-jilid banyaknya. Malam hari sebelum tidur adalah salah satu diantara jadwal tetap yang juga menjadi favorit saya, karena selain sangat terasa nuansa menjalin bonding-nya, setelahnya juga menjadi lebih mudah untuk mengantarkannya tidur. Maka dalam setiap lembaran yang saya buka, bisa jadi meluncurlah informasi seputar obyek-obyek di halaman tersebut, cerita atau kisah terkait obyek tersebut, pengalaman Hafidz terkait obyek tersebut yang saya recall-kan untuk membantu terciptanya sinaps2 syaraf otaknya, kadang disertai coretan di kertas lain untuk memperjelas, bahkan tidak jarang meluncurlah aneka macam lagu dan nyanyian baik dengan lirik dan nada lagu-lagu anak yang sudah ada maupun yang secara mendadak tercipta dari lisan saya khusus pada momen tersebut. Sangat menyenangkan, dan saya pun benar-benar menikmatinya. Hingga suatu saat, antara kebutuhan untuk membuka hp dan merespon banyak hal di sana, dengan keinginan yang (sedikit) terbersit untuk memberi gambaran yang lebih menarik dari paparan dan cerita-cerita yang pernah saya sampaikan sebelumnya kepada Hafidz; tentang berbagai macam binatang berikut suara khasnya, gambaran gunung meletus dengan deskripsi panasnya lahar yang mengalir, beragam alat berat dengan ‘tupoksi’nya masing-masing; tergodalah saya untuk menunjukkan kepada Hafidz beberapa gambar dan video tentang itu semua dari smartphone saya. Dan memang, semua yang saya cari ada di sana. Gambaran cicak yang menangkap nyamuk dengan lidahnya dalam lagu “Cicak-cicak di dinding”, bagaimana buldoser dan eskavator dirakit dan kemudian melaksanakan tugasnya dalam memperbaiki jalan, bagaimana gerakan dan suara singa secara live, dan lain-lain…..semua ada. This is really such an awesome technology. Sangat memudahkan dan tentu saja sangat menyenangkan bagi Hafidz. Tidak membutuhkan berhari-hari, bahkan hanya beberapa kali saja, hingga apa yang ditampilkan gadget tersebut meninggalkan memori manis dan menyenangkan bagi Hafidz untuk meminta ditunjukkan lagi dan lagi. Saya segera menangkap alarm bahaya telah berbunyi dan mengingatkan saya agar tidak lagi memilih metode tersebut dalam melakukan pembelajaran pada Hafidz untuk saat ini. Belum saatnya. Mengapa? Perlahan, saya melihat Hafidz mulai menikmati kesendiriannya bersama gadget dan apa yang ditampilkannya. Penjelasan yang saya berikan di sela-selanya memang masih dia dengarkan, tapi antusiasme responnya dengan setiap untaian kata dan kalimat yang saya sampaikan sudah berkurang, pengulangan yang dilakukannya setiap mendengar kosakata baru mulai tergantikan dengan keasyikan memandang tampilan di layar hp yang saya pinjamkan. Perlahan, saya merasa ‘akan’ kehilangan kehangatan dan kebersamaan saya dengannya karena sekarang dia begitu perhatian dengan hp tsb dan mulai seperti ‘tidak butuh’ saya, paling tidak ketika sedang asyik dengan apa yang dia lihat di hp. Hal itu tentu saja membuat saya sedih. Masalah lain yang muncul berikutnya adalah semakin sulitnya Hafidz memulai tidur padahal malam sudah larut dan saya sudah dengan jelas melihat gurat kelelahan itu di wajahnya. Ini adalah diantara efek radiasi layar hp pada otak kita yang justru membuat kita sulit mengistirahatkan diri, meski sudah lelah membaca banyak hal melalui hp kita tersebut. Selain itu, semakin sulit juga mengajak/membujuknya untuk mematikan hp untuk segera tidur. Alhasil, seringkali justru terjadi momen ‘tantrum’ di malam hari menjelang tidur. Maka menyadari hal tersebut, saya pun bertaubat, insyaAllah dengan taubatan nasuha. Hafidz harus segera dikembalikan lagi kerinduannya akan kebersamaan kami membaca, bercerita, bernyanyi dan melakukan hal-hal (di dunia) nyata lainnya. Sebaliknya dia harus dibantu untuk bisa melupakan gadget yang sudah mulai dirindukannya. Bagaimana caranya? 1. Saya harus benar-benar memastikan tidak ada gawai apapun di antara kami ataupun di sekitar kami yang terjangkau/terlihat olehnya. Hp sementara waktu benar-benar saya tinggalkan. Ketika dia meminta dan menanyakannya bahkan sekalipun dengan lengkingan keras tangisannya, saya harus konsisten dengan komitmen ‘menjauhkan’ Hafidz (saat ini) dari gadget. 2. Komitmen ini juga harus saya komunikasikan kepada orang lain di rumah (dalam hal ini abinya) agar kami bisa satu frekuensi dan bekerjasama dalam mensukseskan target ‘melepaskan’ Hafidz dari merindukan gadget. 3. Mengalihkan perhatiannya dengan melakukan aktivitas bersama yang bisa menarik kembali perhatiannya hingga merasa nyaman, senang dan merindukan apa yang kita lakukan tersebut. Sebelum Hafidz bisa kembali asyik ‘tenggelam’ dengan buku-bukunya, kegiatan yang menjembatani pengalihan keasyikan memorinya tentang tampilan di gadget kepada kertas, pensil dan gambar adalah dengan cara saya melukis secara live di kertas hal-hal yang pernah dia lihat di hp, sambil lisan ini secara simultan mengeluarkan bunyi/menyampaikan kisah/menyanyikan lagu sebagaimana obyek yang sedang saya lukis di kertas tersebut. Jadi sambil menggambar seekor cicak yang merayap di tembok, dengan nyamuk yang melintas terbang di dekatnya hingga disambar cicak dengan lidahnya, semua saya lukis sekaligus saya nyanyikan secara bersamaan. Demikian pula dengan obyek-obyek lain yang pernah diingat hafidz dari hp. Alhamdulillah, berhasil. Hafidz sangat menikmati lukisan saya berikut untaian keterangan lisan yang saya sampaikan ataupun nyanyikan. Lembar demi lembar dilihatnya kembali lukisan-lukisan saya tersebut sambil menceritakan apa yang dia pahami dari gambar-gambar tersebut. Yess, Alhamdulillah. Hafidz sudah kembali pada (apa yang ada di) kertas dan bukunya. Bonding kami pun berjalan kembali. Memulai tidur pun kembali mudah, tanpa disertai tantrum dan lengkingan teriakan meminta ditunjukkan sesuatu dari hp. Alhamdulillah, Yang telah memudahkan hal ini bagi kami. Seorang murid yang menyimak cerita saya ini bertanya, “Bagaimana kalau ibunya ga bisa menggambar?” Temans, para Ibu sholihat yang saya cintai karena Allah. Jangan khawatir dengan kemampuan kita dalam menggambar. Karena sebenarnya yang dibutuhkan adalah bagaimana kita mengembangkan imajinasi atas gambar/lukisan yang kita buat, sejelek apapun itu. Meskipun jauh dari bentuk nyata seekor bebek, ketika bentukan angka ‘2’ kita berikan keterangan sebagai bebek, disertai penjelasan yang asyik dan menyenangkan seputar bebek tersebut, maka saya jamin anak kita akan sangat menikmati dan terpesona dengan lukisan ‘jelek’ kita tadi. Sekali lagi, yang penting, mainkan imajinasi. Dari pengalaman tersebut, saya pun membayangkan bagaimana kiranya perasaan orang tua yang menyaksikan anak tercintanya terlanjur mengalami kecanduan gadget. Bagaimana pula usaha yang harus mereka kerahkan untuk membantu anak tersebut lepas dari kecanduannya. Tentu situasinya jauh lebih menguras airmata dan usaha terbaik dari semua yang berhubungan dengan sang anak. Sehingga memang seringkali bahkan dibutuhkan bantuan dari tenaga ahli/professional untuk melakukannya, dengan kedua orang tuanya sebagai terapis utama bagi sang anak. Tidak bisa hanya sang ibu ataupun sang ayah saja. Itulah mengapa, saya sangat ingin berbagi kisah ini untuk berbagi pelajaran betapa sangat pentingnya menjaga anak kita agar tidak terjatuh pada kondisi ‘patologis’ kecanduan gadget. Kenalkan mereka pada gadget pada saat yang tepat. Tepat dalam konotasi dan cakupan apapun tentangnya. Karena anak-anak kita hari ini adalah generasi digital. Digital adalah dunianya. Mereka adalah penduduk aslinya. Semoga kita dimudahkan Allah swt mengantarkan anak-anak kita menjadi generasi berkualitas yang akan menjadi jalan kemuliaan kita di sisi-Nya, dan menjadi jalan tegaknya peradaban mulia bagi umat manusia di dunia ini dan bertemunya kita kembali bersama anak-anak kecintaan kita tersebut dalam kemuliaan di surga-Nya. Aamiin. Semoga bermanfaat. -Faizatul Rosyidah-

Tips Menarik Lainnya
Produk Pilihan

Paket 24 Nabi Dan Rasul Teladan Utama.

Detail
Rekomondasi Blog