Tips Menarik Sygma Daya Insani

Berkaca dari Kisah Nabi Hud As

Berkaca dari Kisah Nabi Hud As

Oleh Reni Haerani | Senin, 26 September 2016 00:07 WIB | 29122 Views

Meski pada akhirnya perjuangan Nabi Hud as tidak berhasil menyelamatkan kaumnya, namun itu tidak lantas membuat kita berpikir kalau perjuangannya menjadi sia-sia, karena akan selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa dan bukankah tugas kita adalah berjuang, berikhtiar untuk melakukan apapun itu dengan usaha yang terbaik? Allah itu menilai proses bukan hasil.

Berkaca dari Kisah Nabi Hud alaihis salam
Pagi itu Bogor masih mendung setelah semalam diguyur hujan. Kalau suasana mendung begini biasanya bikin malas, maunya tarik selimut lagi, santai-santai sambil rebahan, tapi mana bisa mamak-mamak seperti aku ini berbuat begitu, antrian kerjaan sudah berbaris rapi, menunggu loket dibuka untuk segera dieksekusi.

Semangat berjuang disetiap jengkal langkah kita harus selalu dikobarkan kapanpun dan dimanapun selama apa yang kita lakukan itu semata karena-Nya. Belajarlah pada perjuangan para Nabi dan Rasul dalam menegakkan kalimat-Nya, apa yang kita lakukan saat ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan perjuangan para Anbiya ini.

Jadi teringat sepekan lalu membahas tentang Nabi Hud alaihis salam yang berjuang menyelamatkan saudaranya kaum 'Aad yang mengingkari ajakannya untuk hanya menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tapi walaupun sudah berjuang keras Nabi Hud alaihis salam tetap tidak bisa menolong kaumnya.

Kaum 'Aad mendapat azab badai angin dingin yang dahsyat dimana seluruh aspek kehidupan luluh lantah tak bersisa kecuali bangunan-bangunan tempat tinggalnya, disebabkan mereka tidak mau beriman kepada Allah swt dan mengakui Nabi Hud as sebagai utusan-Nya.

Allah swt berfirman dalam Al Qur'an surat Al-Ahqaf ayat 24-25 "Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami". (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih,"  

"Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa”

Meski pada akhirnya perjuangan Nabi Hud alaihis salam tidak berhasil menyelamatkan kaumnya, namun itu tidak lantas membuat kita berpikir kalau perjuangannya menjadi sia-sia, karena akan selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa dan bukankah tugas kita adalah berjuang, berikhtiar untuk melakukan apapun itu dengan usaha yang terbaik?

Allah itu menilai proses bukan hasil. Banyak hikmah ketika kita belajar siroh, dan Al-Qur'an pun hampir 2/3 nya tentang siroh. Sebagai pelajaran bagi siapa saja yang mau berpikir. Dari peristiwa Nabi Hud alaihis salam ini, Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam apabila melihat cuaca buruk, awan hitam menyelmuti langit disertai angin, wajahnya langsung berubah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam gelisah , khawatir dengan apa yang akan terjadi.

Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berdo'a ketika melihat cuaca buruk dan angin bertiup kencang dengan do'a nya sebagai berikut:  "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, dan kebaikan yang ada padanya, dan kebaikan apa yang dibawanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya, dan kejelekan yang ada padanya, dan kejelekan apa yang dibawanya.” (HR. Muslim )

Masya Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai manusia yang paling mulia saja masih merasa cemas ketika cuaca buruk, bagaimana dengan kita, ketika mengalami peritiwa yang sama, pernahkah terpikir kenapa hal itu terjadi? Jangan-jangan memang karena ada perbuatan kita yang tidak diridhai-Nya?
Dalam Al Qur'an surat Al Ahzab ayat 21 Allah swt berfirman: “Sesungguhnya pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.”

Meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memang harus menjadi bagian penting dalam hidup kita karena hal itulah yang akan mengantarkan kita ke dalam kemuliaan disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu kemuliaan ada di jalan yang lurus.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun telah memberikan kita arti kemerdekaan yang sesungguhnya yaitu kemerdekaan dari kejahiliyahan, dari kemusyrikan menjadi ketauhidan. Dan ketika ketauhidan ini lenyap dari sendi-sendi kehidupan kita, maka yang tersisa adalah kerusakan umat, selanjutnya hanya tinggal menunggu azab itu datang. Na’udzubillahimindzalik.

Yang akan kusampaikan bukanlah tentang ketauhidan karena itu memang bukan kapasitasku untuk berbicara. Tapi lebih ke pandangan seorang ibu dengan amanah 4 orang putri yang masih sangat awam dalam ilmu agama untuk berkaca pada kisah kaum 'Aad ini.

Ada beberapa pelajaran penting yang bisa kusampaikan kepada anak-anakku:
1. Mengesakan Allah adalah pondasi yang harus dimiliki seorang muslim.
2. Ilmu yang dimiliki, seberapa pun tingginya akan selalu kecil dan tak berarti dihadapan Sang Maha Pemilik Ilmu, dengan kesadaran ini berharap mereka kelak tidak akan pernah menyombongkan diri dengan ilmunya.
3. Kesejahteraan dan kekayaan secara materi bukanlah tolak ukur kesuksesan dan kebahagiaan hidup seorang manusia. Karena kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan iman dan taqwa yang ada didalam diri.
4. Selalulah memohon, meminta dan berharap kepada Sang Maha Penggenggam Hidup untuk ditetapkan dalam jalan yang lurus (iman dan islam). Karena ini sebenar-benarnya tempat kembali.

Menceritakan kisah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Rasul-rasul yang lainnya memang tidak akan pernah habis, selalu ada dan indah untuk disimak. Oleh karena itu membiasakan membaca siroh akan lebih mendekatkan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. 

Tips Menarik Lainnya
Produk Pilihan

Paket 24 Nabi Dan Rasul Teladan Utama.

Detail
Rekomondasi Blog