Khitan
Oleh prima kurnia | Jum'at, 10 Maret 2017 04:58 WIB | 48157 Views
Mengkhitan anak di usia balita untuk mengambil sunnah Rasulullah, tanpa pesta seperti yang dilakukan masyarakat pada umumnya.
Alhamdulillah anak-anak kami sudah sunat di usia belia. Sekitar usia 2,5 th - 5 th, karena kami memiliki 4 anak laki-laki. Semua disunat bukan karena ada sesuatu. Sebagian masyarakat di sekitar kami pasti bertanya-tanya, kenapa masih kecil sudah disunat? Ada apa? Tidak ada apa-apa.
Hanya ingin mengambil sunnahnya saja, membersihkan yang kotor. Dan bujukan kami kena kepada anak-anak, nanti kalau sunatnya sudah besar, akan malu, auratnya terlihat. Tentu tidak semudah membalikkan tangan. Tidak hanya sehari atau dua hari membujuk merayu mereka.
Ada proses kabur tidak jadi disunat ketika pak mantri datang ke rumah. Ini terjadi pada anak pertama kami, Fawwaz. Akhirnya yang diekskusi adalah Bayan, adiknya, anak kedua, saat itu masih usia 2,5 th. Tiba-tiba mbah kakung membuka celananya, menawarkan pipis, ketika Bayan bertanya "kenapa koq celananya dibuka mbah?".
Pak Mantri Eko pun menyiapkan peralatan dengan cekatan. Karpet merah sudah digelar untuk membaringkan Bayan yang masih terheran-heran. "Kenapa koq bobok di sini?" ketika mbah membaringkannya beralaskan kasur Palembang di karpet merah. "Iya, bobokan aja di sini" jawab mbah kung. Setelah disuntik, Bayan nangis sebentar saja, pak Mantri mengerjakan tugasnya, saya, abinya dan mbahnya memegangi kakinya dengan banyak bercerita apa saja. Mbah kakung yang sempat menangis terharu.
Fawwaz hanya mengintip dari luar jendela. Tidak begitu lama, pak Mantri pun belum selesai, Bayan tertidur, sampai pak Mantri selesai. Kemudian dilanjut menyunat Firdaus, keponakan saya yang masih berusia 1 tahun. Siang Bayan baru terbangun, dan saatnya minum obat penghilang nyeri. Ada obat penghibur tentunya, abi sudah membelikan beberapa mainan yang pada saat itu bernilai sekali harganya.
Alhamdulillah Bayan tidak rewel. Hanya 1 pekan Bayan sudah kembali aktivitas ala anak-anak. Fawwaz disunat diusia hampir 5 tahun. Satu-satunya yang disunat tanpa ditunggu abinya. Keempatnya tanpa ada pesta walimah, karena tidak ada sunnahnya. Kami hanya bersyukur sudah melaksanakan yang disunnahkan Rasulullah, mengkhitan, sebenarnya tidak terfikirkan bisa melaksanakannya saat itu, karena tidak cukup punya tabungan.
Alhamdulillah Allah berikan rezeky bagi hambanya yang mengerjakan kebaikan dan sunnah Rasulullah. Kini Fawwaz telah beberapa kali menyelesaikan setoran hafalan Quran 30 juz dan Bayan yang menyukai elektro telah menginjak usia remaja, sebutan pemuda bagi orang Indonesia. Sedang dua adiknya masih usia SD kelas 3 dan 5.
Semoga mereka kelak menjadi pemuda-pemuda tangguh yang membawa peradaban. Pembawa perubahan. Mengisi tahun demografi sesuai kapasitas mereka dengan maksimal dan optimal. Menjadi bagian dari pengentas bangsa ini dari keterpurukan. Memberikan andil terbaiknya untuk negeri tercinta.
Kisah Hikmah Lainnya
-
Wajibkah Anak Menafkahi Orang Tua?
Seorang anak wajib memberikan nafkah kepada orang tua dan anak-anaknya, bila keadaan keuangannya mengizinkan dan kedua orang tuanya hidup dalam kemiskinan. Bahkan, menurut Al Ustadz Ahmad Isa Asyur dalam kitabnya "Birrul Walidain", beberapa ulama berpendapat bahwa kewajiban memberi nafkah itu tidak hanya sebatas kepada kedua orang tua, tetapi juga kepada seluruh keleuarga terdekat, berdasarkan firman Allah Swt yang berbunyi:
-
3 Cara Aisyah Binti Abu Bakar Menyelesaikan Masalah
Persoalan yang dihadapi ???Aisyah adalah berita bohong. Para kaum munafik menyebarluaskan isu tentang kasus perzinaan ???Aisyah dengan Shafwan bin Mu???aththal. Ketika pulang dari sebuah peperangan, ???Aisyah terlambat dari rombongan. Ia pulang diantar Shafwan dan menaiki untanya. Setelah itu isu tentang perzinaan ini pun menyebar luas, laksana api yang dengan cepat membakar rerumputan kering. Lantas apakah yang dilakukan ???Aisyah untuk menghadapi dua persoalan tersebut?
-
10 Tradisi Imlek yang Sebaiknya Diketahui
Ayah Bunda, hari raya tahun baru imlek merupakan hari raya yang dirayakan oleh masyarakat Tionghoa. Melalui perkembangannya dari masa ke masa, dalam ribuan tahun ini semenjak adanya perayaan Tahun Baru Imlek, sejumlah Kebiasaan dan tradisi terbenttauk dalam merayakannya. Sebagian besar masih dilakukan sampai saat ini. Seperti apa kebiasannya? Yuk cari tau.
-
Fakta ! Orang Sederhana Bersedekah 1,5 Milyar Setiap Bulan
Ayah Bunda, di era digital ini mudah bagi masyarakat untuk menunjukkan kebaikannya kepada kaum yang membutuhkan. Mereka berfoto sambil membawa barang bantuan atau sekedar share location dan menambah caption yang menujukkan mereka sedang melakukan donasi. Tapi tidak untuk Syaikh Abdurrahman Uther al Yamani, beliau tidak ingin di foto untuk mengabadikan kebaikannya. Seperti apa kebaikan Syaikh Abdurrahman Uther al Yamani ini? Yuk kita kenalan.