Parenting dan Anak Sygma Daya Insani

7 Kewaspaadaan yang Sebaiknya Dimiliki Anak Terhadap Pelecehan Seksual (1)

7 Kewaspaadaan yang Sebaiknya Dimiliki Anak Terhadap Pelecehan Seksual (1)

Oleh Azar | Senin, 08 Agustus 2016 04:11 WIB | 97312 Views

Menyikapi maraknya kasus pelecehan seksual pada anak akhir akhir ini, ajarkan anak kewaspadaan dalam keseharian. Tidak ada satu orang tua pun yang bisa 100% menduga apa yang akan dihadapi anak saat tak ada di samping mereka. Kejahatan senantiasa mengintai dimana saja.???Tidak ada cara terbaik untuk melindungi dan mencaegah kejadian buruk yang menimpa anak, selain memberdayakan anak itu sendiri??? ujar Vera Itabiliana Hadiwidjojo M.Psi, psikolo anak dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia.

7 Kewaspaadaan yang Sebaiknya Dimiliki Anak Terhadap Pelecehan Seksual (1)

Menyikapi maraknya kasus pelecehan seksual pada anak akhir akhir ini, ajarkan anak kewaspadaan dalam keseharian. Tidak ada satu orang tua pun yang bisa 100% menduga apa yang akan dihadapi anak saat tak ada di samping mereka. Kejahatan senantiasa mengintai dimana saja.”Tidak ada cara terbaik untuk melindungi dan mencaegah kejadian buruk yang menimpa anak, selain memberdayakan anak itu sendiri” ujar Vera Itabiliana Hadiwidjojo M.Psi, psikolo anak dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia. Berikut hal hal yang harus di perhatikan:
 
  1. Ajarkan Anak Mandiri
Mengajarkan anak kemandirian bukan berarti benar-benar melepas dia untuk melakukan segala hal di luar pengawasan orang tua. Tanamkan kemandirian terutama untuk hal-hal yang menjadi rutinitas, seperti mengganti baju hingga buang air. Makin cepat Ayah Bunda mengajari anak mandiri dirumah, makin sedikit ia akan tergantung pada orang lain.

Bagi anak balita yang masih belum bisa ke kamar mandi sendiri dan membutuhkan bantuan orang dewasa saat buang air, Vera menyarankan agar orang tua menekankan kepada anaknya, siapa saja orang yang boleh membantunya. Seorang ibu bisa mengatakan kepada anaknya, “Kalau ke kamar mandi kamu boleh dibantu orang lain, tapi hanya yang diizinkan Mama, seperti Ibu Guru atau Mbak”
 
  1. Jangan peluk dan cium sembarangan
Saat bertemu kerabat atau orang baru, orang tua akan senang jika anaknya menyapa, menyalaminya, bahkan mau digendong dan dicium. Jangan terburu bangga jika anak Anda mudah dekat dengan siapa asaja. Seorang anak perlu memiliki naluri kewaspadaan untuk melindungi dirinya. “Jika anak menolak bersalaman atau menyapa artinya mereka tidak nyaman. Tidak perlu dipaksakan” ujar Vera.

Tekankan pula pada anak, siapa yang boleh memeluk dan menciumnya. Maka saat Anda becanda dengan anak dan memeluknya dan menciumnya, jangan lupa katakan bahwa ini hanya boleh dilakukan oleh mama-papanya saja. Tidak semua orang boleh mencium dan memeluknya sembarangan.
 
  1. Tanamkan Rasa Malu
Anak harus memiliki rasa malu dan menghormati tubuh mereka sendiri, bagaimana cara mengajarkannya ? Vera menyarankan memulainya dari hal sederhana, seperti saat mandi. Biasakan anak untuk mandi di kamar mandi atau di tempat tertutup yang tidak terlihat orang lain. Perhatikan hal-hal berikut ini :
  • Usai mandi, anak langsung ‘kabur’, tanpa peduli sudah memakai baju atau belum. Biasakan anak keluar kamar mandi dengan mamakai handuk untuk menutupi tubuhnya.
  • Teman anak ingin ikut mandi bersama. Jelaskakn bahwa ini hanya sementara. Katakan, “lain kali mesti mandiri sendiri, ya” ingatkan anak untuk tidak saling memegang tubuh teman. Jika dibiarkan, dalam ingatannya ia merasa dipegang atau memegang tubuh orang lain sebagai hal biasa
  • Mengganti pakaian anak saat di mal ? bawalah anak ke kamar mandi atau baby’s room untuk mengganti pakaiannya. Jangan membuka baju anak di depan banyak orang.
  1. Penurut Tak Selalu Baik
Menurut Vera, anak yang terlalu penurut dan takut biasanya lebih mudah menjadi korban. Itu sebabnya, penting mengajarkan anak logika untuk berargumentasi dan menolak jika memang perintah itu tidak masuk akal. Misalnya, jika ada orang lain yang ingin menyentuh bagian tubuh pribadinya, ajarkan anak untuk menolaknya. Minta mereka mengatakan, “Kata Mama itu tidak boleh,” atau “Aku tanya mamaku dulu, ya”
 
  1. Tindakan Antisipasi
Anak-anak memiliki naluri untuk menyadari bahwa mereka sedang dalam bahaya, namun tidak semua anak tahu apa yang harus mereka lakukan saat menghadapinya. Beberapa orang tua membekali anak dengan kemampuan bela diri. Ini hal yang baik.
                Tapi yang terpenting, anak tahu kapan ia perlu melindungi dirinya. Cara-cara sederhana seperti berteriak, berlari hingga memukul bagian yang paling vital, bisa Anda ajarkan kepada anak. Katakan hal tersebut boleh ia lakukan jika ia merasa terancam atau takut kepada sesuatu hal.
 
  1. Biasakan Komunikasi Terbuka
                Orang tua perlu membangun komunikasi yang baik dengan anak. Luangkan waktu untuk selalu bertanya kegiatan yang dilakukan anak satu hari itu. Bentuk komunikasinya tidak harus tanya jawab. Biasakan saja 10-15 menit mengobrol santai tentang apa saja. Mungkin Anda yang mulai cerita lebih dahulu atau curhat-curhat kecil. Suasana yang membuat anak-anak nyaman dan santai, dengan sendirinya akan membuat anak lebih mudah cerita apa saja.

Sayangnya, menurut Vera, karena rasa takut yang berlebihan orang tua dengan maraknya kasus pedofilia belakangan ini, orang tua jadi punya pertanyaan saat pulang sekolah, seperti ‘apakah ada yang menyentuh mereka di sekoalh?’. Padahal tidak harus begitu, karena anak akan merasa diintrograsi. “Yang terpenting lakukan komunikasi yang hangat dan nyaman. Intinya, luruskan persepsi dari apa yang dia liat dan dengar. Segala larangan Anda samapaikan belakangan.” Papar Vera

               7. Kenalkan bagian tubuh pribadi
Saat anak sudah bisa diajak komunikasi (sekitar 2 tahunan), orang tua harus mulai mengajarkan tentang bagian tubuh pribadinya yang tidak boleh disentuh dan dilihat oleh orang lain. Penjelasan ini bisa orang tua sampaikan saat sedang memandikan anak, menggantikan pakaian, atau menjelang tidur.

“Yang Terpenting, suasananya harus santai. Lakukan berulang kali tiap ada kesempatan. Tapi jangan terlalu serius dan sering sampai membuat anak tidak nyaman atau cemas, bahkan jadi tak acuh sama sekali,” jelas Vera. Gunakan bahasa yang sederhana dan jelas. Seperti kalimat ini,” Kami punya bagian tubuh pribadi, dari leher sampai lutut termasuk paha, dada bokong. Bagian pribadi ini hanya boleh dilihat atau disentuh oleh kamu sendiri , Mama, dan Papa serta dokter dengan ditemani orang tua.
Kenalkan pada anak, nama nama bagian tubuhnya. Tak perlu menyamarkan namanya, seperti penis menjadi burung atau vagina jadi menik. Saat anak mandi tunjukkan bagian tubuh tersebut sambil menyebutkan namanya.

Parenting dan Anak Lainnya
Produk Pilihan

Paket 24 Nabi Dan Rasul Teladan Utama.

Detail
Rekomondasi Blog